sistem pendengaran


 

RESUME

Sistem Pendengaran

 

 

 

Disusun oleh :

Muklis Sonati

01.09.082

 

 

 

 

PRODI S1 KEPERAWATAN

STIKES DIAN HUSADA

MOJOKERTO

2012

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

            Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT.Karena atas Rahmat, Nikmat, dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas “ Resume Sistem Pendengaran ” ini dengan lancar dan tepat pada waktunya.

Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak, diantaranya : 

  1. Ibu Linda Presti F, S.kep,Ns,M.Kes Selaku fasilitator mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III
  2. Pihak-pihak yang ikut serta dalam proses pembuatan makalah ini

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerja samanya dalam menyelesaikan makalah ini.

            Kami  menyadari sebagai mahasiswa tentunya masih banyak kekurangan dari diri kami, oleh karena itu jika nantinya ada kekurangan ataupun kesalahan dari hasil makalah kelompok kami tolong berikan kritik sekaligus saran untuk membangun dan menyempurnakan makalah ini.

 Akhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin!.

Wassalamu’alaikum Wr. W

 

                                                                                    Mojokerto, 22 Maret 2012

 

                                                                                                Penyusun

 

 

       I.            Anatomi,Fisiologi dan Patofisiologi Sistem Pendengaran

 

  1. Anatomi Pendengara

 

  1. AURIKEL = DAUN TELINGA
  • Terdiri dari tulang rawan dan kulit
  • Terdapat konkha, tragus, antitragus, helix, antihelix dan lobulus
  • Fungsi utama aurikel adalah untuk menangkap gelombang suara dan mengarahkannya ke dalam MAE
  1. MEATUS AUDITORIUS EKSTERNAL = LIANG TELINGA LUAR
  • Panjang + 2, 5 cm, berbentuk huruf S
  • 1/3 bagian luar terdiri dari tulang rawan, banyak terdapat kelenjar minyak dan kel. Serumen
  • 2/3 bagian sisanya terdiri dari tulang ( temporal ) dan sedikit kelenjar serumen.
  • Rambut halus dan serumen berfungsi untuk mencegah serangga kecil masuk.
  • MAE ini juga berfungsi sebagai buffer terhadap perubahan kelembaban dan temperatur yang dapat mengganggu elastisitas membran tympani
  1. MEMBRANA TYMPANI
  • Terdiri dari jaringan fibrosa elastis
  • Bentuk bundar dan cekung dari luar
  • Terdapat bagian yang disebut pars flaksida, pars tensa dan umbo. Reflek cahaya ke arah kiri jam tujuh dan jam lima ke kanan
  • Dibagi 4 kwadran ; atas depan, atas belakang, bawah depan dan bawah belakang
  • Berfungsi menerima getaran suara dan meneruskannya pada tulang pendengaran
  1. TULANG TULANG PENDENGARAN
  • Terdiri dari Maleus, Incus dan Stapes
  • Merupaka tulang terkecil pada tubuh manusia.
  • Berfungsi menurunkan amplitudo getaran yang diterima dari membran tympani dan meneruskannya ke jendela oval
  1. CAVUM TYMPANI
  • Merupakan ruangan yang berhubungan dengan tulang Mastoid, sehingga bila terjadi infeksi pada telinga tengah dapat menjalar menjadi mastoiditis
  1. TUBA EUSTACHIUS
  • Bermula dari ruang tympani ke arah bawah sampai nasofaring
  • Struktur mukosanya merupakan kelanjutan dari mukosa nasofaring
  • Tuba dapat tertutup pada kondisi peningkatan tekanan secara mendadak.
  • Tuba ini terbuka saat menelan dan bersin
  • Berfungsi untuk menjaga keseimbangan tekanan udara di luar tubuh dengan di dalam telinga tengah
  1. KOKLEA
  • Skala vestibuli yang berhubungan dengan vestibular berisi perilymph.
  • Skala tympani yang berakhir pada jendela bulat, berisi perilymph
  • Skala media / duktus koklearis yang berisi endolymph
  • Dasar skala vestibuli disebut membran basalis, dimana terdapat organ corti dan sel rambut sebagai organ pendengaran
  1. KANALIS SEMISIRKULARIS
  • Terdiri dari 3 duktus semiserkular, masing-masing berujung pada ampula.
  • Pada ampula terdapat sel rambut, krista dan kupula
  • Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal rotasi
  1. VESTIBULA
  • Terdiri dari sakulus dan utrikel yang mengandung makula
  • Berkaitan dengan sistem keseimbangan tubuh dalam hal posisi.

 

  1. Fisiologi Pendengaran

 

  • Getaran suara ditangkap oleh aurikel yang diteruskan keliang telinga sehingga menggetarkan membran tympani.
  • Getaran diteruskan ke tulang tulang pendengaran, stapes akhirnya menggerakkan foramen oval yang juga menggerakkan perilymph dalm skala vestibuli. Dilanjutkan melalui membran vestibuler yang mendorong endolymph dan membran basal ke arah bawah, perilymph dalam skala tympani akan bergerak sehingga mendorong foramen rotundum ke arah luar.
  • Skala media yang menjadi cembung mendesak endolymph dan mendorong membran basal dan menggerakkan perilymph pada skala tympani.
  • Pada saat istirahat,ujung sel rambut berkelok kelok dan dengan berubahnya membran basal, ujung sel rambut menjadi lurus. Rangsangan fisik tadi diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan natrium menjadi aliran listrik yang diteruskan ke nervus VIII yang diteruskan ke lobus temporal untuk dianalisis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Patofisiologi gangguan pendengaran ( Mastoiditis )

 

               
   

Kuman aerob

 

 
     
 
     
 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

    II.            Pengkajian ,Riwayat Kesehatan, Tanda dan gejalagangguan sistem pendengaran

 

  1. Pengkajian , Riwayat Kesehatan, Tanda dan gejala gangguan sistem pendengaran

 

  1. Pengkajian
    1. Demografi

 Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, alamat, golongan darah, penghasilan

  1. Riwayat kesehatan

apakah klien pernah terpajan zat zat kimia tertentu, riwayat tumor pada keluarga, penyakit yang mendahului seperti sklerosis TB dan penyakit neurofibromatosis, kapan gejala mulai timbul

  1. Aktivitas / istirahat, Gejala : kelemahan / keletihan, kaku, hilang keseimbangan. Tanda : perubahan kesadaran, letargi, hemiparese, quadriplegi, ataksia, masalah dalam keseimbangan, perubaan pola istirahat, adanya faktor faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, cemas, keterbatasan dalam hobi dan dan latihan
  2. Sirkulasi, gejala : nyeri kepala pada saat beraktivitas. Kebiasaan : perubahan pada tekanandarah atau normal, perubahan frekuensi jantung.
  3. Integritas Ego, Gejal : faktor stres, perubahan tingkah laku atau kepribadian, Tanda : cemas,mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.
  4. Eliminasi : Inkontinensia kandung kemih/ usus mengalami gangguan fungsi.
  5.  makanan / cairan , Gejala : mualmuntah proyektil dan mengalami perubahan selera. Tanda : muntah ( mungkin proyektil ), gangguan menelan ( batuk, air liur keluar, disfagia )
  6.  Neurosensori, Gejala : Amnesia, vertigo, synkop, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling dan baal pad aekstremitas, gangguan pengecapan dan penghidu. Tanda : perubahan kesadaran sampai koma, perubahan status mental, perubahan pupil, deviasi pada mata ketidakmampuan mengikuti, kehilangan penginderaan, wajah tidak simetris, genggaman lemah tidak seimbang, reflek tendon dalam lemah, apraxia, hemiparese, quadriplegi, kejang, sensitiv terhadap gerakan
  7. Nyeri / Kenyamanan, Gejala : nyeri kepala dengan intensitas yang berbeda dan biasanya lama. Tanda : wajah menyeringai, respon menarik dri rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa istirahat / tidur.
  8.  Pernapasan, Tanda : perubahan pola napas, irama napas meningkat, dispnea, potensial obstruksi.
  9.  Hormonal : Amenorhea, rambut rontok, dabetes insipidus.
  10.  Sistem Motorik : scaning speech, hiperekstensi sendi, kelemahan
  11. keamanan , Gejala : pemajanan bahan kimia toksisk, karsinogen, pemajanan sinar matahari berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi
  12.  seksualitas, gejala: masalah pada seksual ( dampak pada hubungan, perubahan tingkat kepuasan )
  13.  Interaksi sosial : ketidakadekuatan sitem pendukung, riwayat perkawinan ( kepuasan rumah tangga, dudkungan ), fungsi peran.
    1. Tanda dan gejala gangguan sistem pendengaran
  • Sakit kepala
  • Muntah
  • Papiledema
  •  gerakan seperti kejang kejang yang terletak
    pada satu sisi tubuh ( kejang jacksonian )
  • tuli ( gangguan saraf kedelapan )
  • Demam biasanya hilang dan timbul.
  • Nyeri cenderung menetap dan berdenyut, terletak di sekitar dan di dalam telinga, dan mengalami nyeri tekan pada mastoid.
  • Gangguan pendengaran sampai dengan kehilangan pendengaran.
  • Membran timpani menonjol berisi kulit yang telah rusak dan bahas sebaseus (lemak).
  • Dinding posterior kanalis menggantung.
  • Pembengkakan postaurikula.
  • Temuan radiologis yaitu adanya apasifikasi pada sel-sel udara mastoid oleh cairan dan hilangnya trabukulasi normal sel-sel tersebut.
  • Keluarnya cairan yang melimpah melalui liang telinga dan berbau.

 

 

  1. Pemeriksaan Fisik

 

  • Daun telinga

Inspeksi telinga luar terhadap posisi, warna, ukuran, bentuk, hygiene, adanya lesi/ massa dan kesimetrisan. 

Palpasi kartilago telinga luar secara simetris, yaitu dari jaringan lunak ke jaringan keras dan catat jika ada nyeri
Bandingkan telinga kiri dan kanan.
Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut:
– Pada orang dewasa, pegang daun telinga/ heliks dan perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan ke belakang sehingga lurus dan menjadi mudah diamatai.
– Pada anak-anak, tarik daun telinga ke bawah.
Periksa adanya peradangan, perdarahan atau kotoran/ serumen pada lubang telinga.

  • Karakteristik serumen

Bagaimana warna serumen nya,apakah kontinuitasnya padat atau lembek.

  • Kondisi telinga

Adakah Kemerahan,peradangan,dan perdarahan.

  •  Cairan dari telinga

Adakah Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir dari telinga tengah ke auditory canal .Adakah  abses (kumpulan jaringan mati dan nanah)

  • Adakah Perasaan penuh dalam telinga
  • Adakah Tinnitus
  •  Fungsi pendengaran

Bagaimana fungsi pedengarannya apakah pasien mampu mendengarkan dengan bisikan dan apakah klien masih dapat mendengarkan detak arloji sampai jarak 30 cm dari telinga?

  • Pemakaian alat bantu

Apakah ada alat bantu pendengaran untuk mendengarkan.

  1. Teknik pemeriksaan telinga luar dan mastoid

 

Tujuan
Mengetahui keadaan telinga luar dan mastoid, saluran telinga, gendang telinga dan fungsi pendengaran.
Persiapan alat

1)      Arloji berjarum jam detik

2)      Garpu talla

3)      Spekulum telinga

4)      Lampu kepala

Prosedur pelaksanaan
Inspeksi dan palpasi telinga luar

1)   Bantu klien dalam posisi duduk jika memungkinkan

2)   Posisi pemeriksa menghadap ke sisi telinga yang dikaji

3)   Atur pencahayaan dengan menggunakan auroskop, lampu kepala atau sumber cahaya lain sehingga tangan pemeriksa bebas bekerja

4)   Inspeksi telinga luar terhadap posisi, warna, ukuran, bentuk, hygiene, adanya lesi/ massa dan kesimetrisan. 

5)   Lakukan palpasi dengan memegang telinga menggunakan jari telunjuk dan jempol.

6)   Palpasi kartilago telinga luar secara simetris, yaitu dari jaringan lunak ke jaringan keras dan catat jika ada nyeri

7)   Lakukan penekanan pada area tragus ke dalam dan tulang telinga di bawah daun telinga.

8)   Bandingkan telinga kiri dan kanan.

9)   Inspeksi lubang pendengaran eksternal dengan cara berikut:
– Pada orang dewasa, pegang daun telinga/ heliks dan perlahan-lahan tarik daun telinga ke atas dan ke belakang sehingga lurus dan menjadi mudah diamatai.
– Pada anak-anak, tarik daun telinga ke bawah.

10)  Periksa adanya peradangan, perdarahan atau kotoran/ serumen pada lubang telinga.
Pemeriksaan pendengaran
Menggunakan bisikan

1)      Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.

2)      Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa

3)      Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”

4)      Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar

5)      Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama

6)      Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien.

Menggunakan arloji

1)      Ciptakan suasana ruangan yang tenang

2)      Pegang arloji dan dekatkan ke telinga klien

3)      Minta klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia mendengar detak arloji

4)      Pindahkan posisi arloji perlahan-lahan menjauhi telinga dan minta klien untuk memberitahu pemeriksa jika ia tidak mendengar detak arloji. Normalnya klien masih mendengar sampai jarak 30 cm dari telinga.

Menggunakan garpu talla
Pemeriksaan Rinne

1)      Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan

2)      Letakkan tangkai garpu talla pada prosesus mastoideus klien

3)      Anjurkan klien untuk memberi tahu pemeriksa jika ia tidak merasakan getaran lagi

4)      Angkat garpu talla dan dengan cepat tempatkan di depan lubang telinga klien 1-2 cm dengan posisi garpu talla paralel terhadap lubang telinga luar klien

5)      Instruksikan klien untuk memberitahu apakah ia masih mendengar suara atau tidak

6)      Catat hasil pendengaran pemeriksaan tersebut
Pemeriksaan Weber

1)      Pegang garpu talla pada tangkainya dan pukulkan ke telapak tangan atau buku jari tangan yang berlawanan

2)      Letakkan tangkai garpu talla di tengah puncak kepala klien

3)      Tanyakan kepada klien apakah bunyi terdengar sama jelas pada kedua telinga atau lebih jelas pada salah satu telinga

4)      Catat hasil pemeriksaan pendengaran tersebut.

 

  1. Teknik pemeriksaan otoskop

 

Otoskop dipegang dengan satu tangan semen¬tara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas, ke belakang dan sedikit ke luar Cara ini akan membuat lurus kanal pada orang dewasa, sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana timpani.
 Spekulum dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga, dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membrana timpani. Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif, maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri.
GAMBAR 57-2. Teknik untuk menggunakan otoskop.

 Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing; dalam kanalis auditorius eksternus dicatat. Membrana, timpani sehat berwarna mutiara keabuan
pada dasar kanalis. Penanda harus dttihat mungkin pars tensa dan kerucut cahaya.umbo, manubrium mallei, dan prosesus brevis.
 Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihat lebih jauh pada Hpatan malleus dan daerah perifer. dan warna membran begitu juga tanda yang tak biasa at! deviasi kerucut cahaya dicatat. Adanya cairan, gele bung udara, atau masa di telinga tengah harus dicatat.
 Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus membrana timpani yang baik hanya dapat dilakukan bi kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen not nya terdapat di kanalis eksternus, dan bila jumla sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskop.
 Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

 

  1. Teknik uji pendengaran

 

  • Garpu tala

Ada 4 jenis tes garpu tala yang bisa kita lakukan, yaitu :

  Tes batas atas & batas bawah.

Tujuan kita melakukan tes batas atas & batas bawah yaitu agar kita dapat menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar pasien dengan hantaran udara pada intensitas ambang normal.Ada 3 interpretasi dari hasil tes batas atas & batas bawah yang kita lakukan, yaitu :

-                    Normal. Jika pasien dapat mendengar garpu tala pada semua frekuensi.

-                    Tuli konduktif. Batas bawah naik dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi rendah.

-                    Tuli sensorineural. Batas atas turun dimana pasien tidak dapat mendengar bunyi berfrekuensi tinggi.

Kesalahan interpretasi dapat terjadi jika kita membunyikan garpu tala terlalu keras sehingga kita tidak dapat mendeteksi pada frekuensi berapa pasien tidak mampu lagi mendengar bunyi.

Uji Weber
memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa. Kemudian diletakkan pada dahi atau gigi pasien. Pasien ditanya apakah suara terdengar di tengah kepala, di telinga kanan atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal akan mende¬ngar suara seimbang pada kedua telinga atau menjelaskan bahwa suara terpusat di tengah kepala. Bila ada kehilang¬an pendengaran konduktif (otosklerosis, otitis media), suara akan lebih jelas terdengar pada sisi yang sakit. Ini disebabkan karena obstruksi akan menghambat ruang suara, sehingga akan terjadi peningkatan konduksi tulang. Bila terjadi kehilangan sensorineural, suara akan meng-alami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik. Uji Weber berguna untuk kasus kehilangan pende¬ngaran unilateral.
Uji Rinne
gagang garpu tala yang bergetar ditempatkan di belakang aurikula pada tulang mastoid (kon¬duksi tulang) sampai pasien tak mampu lagi mendengar suara. Kemudian garpu tala dipindahkan pada jarak 1 inci dari meatus kanalis auditorius eksternus (konduksi uda-ra). Pada keadaan normal pasien dapat terus mendengar¬kan suara, menunjukkan bahwa konduksi udara berlang-sung lebih lama dari konduksi tulang. Pada kehilangan pendengaran konduktif, konduksi tulang akan melebihi konduksi udara begitu konduksi tulang melalui tulang temporal telah menghilang, pasien sudah tak mampu lagi mendengar garpu tala melalui mekanisme konduktif yang biasa. Sebaliknya kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan suara yang dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun keduanya merupakan konduktor, yang buruk dan segala suara diterima seperti sangat jauh dan lemah.

  Tes Schwabach.

Tujuan kita melakukan tes Schwabach adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara pemeriksa dengan pasien.Ada 3 interpretasi dari hasil tes Schwabach yang kita lakukan, yaitu :

-          Normal. Schwabch normal.

-          Tuli konduktif. Schwabach memanjang.

-          Tuli sensorineural. Schwabach memendek.

  • Test bisik

1)      Atur posisi klien membelakangi pemeriksa pada jarak 4-6 m.

2)      Instruksikan klien untuk menutup salah satu telinga yang tidak diperiksa

3)      Bisikkan suatu bilangan, misal ”tujuh enam”

4)      Minta klien untuk mengulangi bilangan yang didengar

5)      Periksa telinga lainnya dengan cara yang sama

6)      Bandingkan kemampuan mendengar telinga kanan dan kiri klien.

  • Watch test

Pemeriksaan ini bertujuan menentukan adanya kelainan jalur vestibulo-visual

v  Mencari adanya gerakan bola mata yang tidak wajar, misalnya nistagmus dan strabismus. Nistagmus dapat muncul secara spontan (pada posisi mata netral, di tengah), saat mata melirik (gaze), saat rangsangan dengan irigasi telinga (caloric test).

Pada posisi duduk atau berbaring, penderita diminta melihat ke depan (mata pada posisi netral atau mid line), kemudian melirik pelan-pelan ke kanan, ke kiri, ke atas, dan ke bawah.

Nistagmus dengan kelainan sentral memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

v  Arah vertikal, ke atas atau ke bawah

v  Arah memutar (circular), searah atau berlawanan arah jarum jam

Gaze nystagmus (nistagmus yang fase cepatnya berubah bila arah lirikan mata berubah dan arah nistagmus selalu sesuai dengan arah lirikan)

Nystagmoid jerks (gerak mata mirip nistagmus)

 

  1. Teknik romberg, helpick pike manuver

 

v  Teknik romberg

biasanya berguna untuk menilai stabilitas postural jika mata ditutup atau dibuka.

v  helpick pike manuver

 

Pemeriksaan ini bertujuan mencari adanya vertigo/nistagmus posisional paroksismal, oleh karena itu untuk membangkitkannya diperlukan rangsangan perubahan posisi dengan cepat.

v  Penderita duduk di meja periksa dan diminta dengan cepat berbaring terlentang dengan kepala tergantung (disanggah dengan tangan pemeriksa) di ujung meja dan dengan cepat kepala diminta menengok ke kiri (10-20°), pertahankan10-15 detik, lihat adanya nistagmus. Kemudian kembali pada posisi duduk dan lihat adanya nistagmus (10-15 detik).

v  Pemeriksaan diulang, kali ini kepala menengok ke kanan

 

 

 

Vertigo/nistagmus yang timbul dengan arah tertentu, saat posisinya kembali sering timbul nistagmus dengan arah berlawanan.

Sifat-sifat nistagmus paroksismal akibat kelainan perifer antara lain:

v  Onset lambat, terdapat periode laten 2-20 detik setelah perubahan posisi dilakukan

v  Masa timbul nistagmus sebentar (≤ 2menit)

v  Disertai vertigo sesaat

v  Respon nistagmus mudah lelah

Nistagmus akibat kelainan SSP memiliki ciri-ciri:

  1. Tidak terdapat periode laten, nistagmus langsung muncul setelah ada rangsangan perubahan posisi
  2. Masa timbul nistagmus lama (≥2 menit)
  3. Tidak atau hanya sedikit disertai keluhan vertigo
  4. Nistagmus tidak mudah lelah

 

 III.            Prosedur  Diagnostik pada gangguan pendengaran

 

  1. Audiometri

Pada pemeriksaan audiometric penderita OMSK biasanya didapati tuli konduktif. Tetapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensorineural, beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem penghantaran suara di telinga tengah.

              Paparela, Brady dan Hoel (1970) melaporkan pada penderita OMSK ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui membran foramen rotundum, sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer atau permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal koklea tetapi dapat meluas ke bagian apeks koklea.

              Evaluasi audiometric penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi koklea. Dengan menggunakan audiometric nada murni pada hantaran udara dan tulang, biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran.

  1. Radiorafi

Pemeriksaan radiologi daerah mastoid pada penyakit telinga tengah kronis nilai diagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometric. Pemeriksaan radiologi biasanya mengungkapkam mastoid yang tampak sklerotik, lebih kecil denga pneumatisasi lebih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. Erosi tulang, terutama pada daerah atik memberikan kesan kolesteatoma.

              Proyeksi radiografi yang sekarang baisnya digunakan adalah :

  1. Proyeksi Schuller, yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dari arah lateral dan atas. Foto ini berguna untuk pembedahan karena memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. Pada keadaan mastoid yang sklerotik, gambaran radiologi ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral.
  2. Proyeksi Mayer atau Owen, diambil dari arah anterior telinga tengah, akan tampak gambaran tulang-tilang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur.
  3. Proyeksi Stenver, memperlihatkan gambaran sepanjang pyramid petrosus dan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna, vestibulum, dan kanalis semisirkularis. Proyeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukkan adanya pembesaran akibat kolesteatoma.
  4. Proyeksi Chausse III, memberikan gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. Politomografi dan atau CT scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatoma, ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis horizontal. Keputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil sinar X saja. Pada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukkan adanya penyakit
  5. MRI ( Magnetic resonance imaging)

Pencitraan resonansi magnetik (bahasa InggrisMagnetic Resonance Imaging, MRI) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan “CT scan”, MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut.

Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahanfisiologi otot hidup dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidrokarbon.

Cara Kerja MRI

  1. Pertama, putaran nukleus atom molekul otot diselarikan dengan menggunakan medan magnet yang berkekuatan tinggi.
  2. Kemudian, denyutan/pulsa frekuensi radio dikenakan pada tingkat menegak kepada garis medan magnet agar sebagian nuklei hidrogenbertukar arah.
  3. Selepas itu, frekuensi radio akan dimatikan menyebabkan nuklei berganti pada konfigurasi awal. Ketika ini terjadi, tenaga frekuensi radio dibebaskan yang dapat ditemukan oleh gegelung yang mengelilingi pasien.
  4. Sinyal ini dicatat dan data yang dihasilkan diproses oleh komputer untuk menghasilkan gambar otot.

Dengan ini, ciri-ciri anatomi yang jelas dapat dihasilkan. Pada pengobatan, MRI digunakan untuk membedakan otot patologi seperti tumur otak dibandingkan otot normal.

Teknik ini bergantung kepada ciri tenang nuklei hidrogen yang dirangsang menggunakan magnet dalam air. Bahan contoh ditunjukkan seketika pada tenaga radio frekuensi, yang dengan kehadiran medan megnet, membuatkan nuklei dalam keadaan bertenaga tinggi. Ketika molekul kembali menurun kepada normal, tenaga akan dibebaskan ke sekitarnya, melalui proses yang dikenal sebagai relaksasi. Molekul bebas menurun pada ambang normal, tenang lebih pantas. Perbedaan antara kadar tenang merupakan asas gambar MRI–sebagai contoh, molekul air dalam darah bebas untuk tenang lebih pantas, dengan itu, tenang pada kadar berbeda berbanding molekul air dalam otot lain.

 

 

 

  1. Tympanometri

Tympanometry (timpanometri) bukan tes pendengaran tetapi prosedur yang dapat menunjukan seberapa baik gerakan gendang telinga saat suara yang lembut dan tekanan udara diberikan di liang telinga. Sangat menolong dalam menilai masalah di telinga tengah seperti cairan di telinga tengah.

Timpanogram adalah gambaran grafik dari timpanometri. Garis datar pada timpanogram mengindikasikan gendang telinga tidak mudah bergerak, sementara gambaran paku menunjukan bahwa gendang telinga berfungsi normal. Pemeriksaan visual keadaan gendang telinga harus dilakukan bersamaan dengan timpanometri.

Menguji kinerja alat pendengaran dari gendang sampai tengah telinga (tulang sanggurdi). Caranya mirip OAE tapi responnya dari defleksi (perubahan gerak) gendang telinga. Tesnya tidak menyakitkan, objektif dan tidak perlu respon aktif dari pasien.  Biasanay digunakan untuk mengeliminasi kemungkina gangguan telnga tengah jika hasil OAE menunjukan respon negatif.

 

 IV.            Uji fungsi vestibulum

 

  1. posisi duduk atau di tempat tidur
  • gerakan mata : gerakkan mata perlahan-lahan awalnya, kemudian dengan cepat ke atas dan ke bawah, samping ke samping dan diagonal. Fokus pada jari anda yang anda gerakkan dari jarak 30 cm sampai 90 cm dari muka.
  • Gerakan kepala: gerakkan kepala perlahan awalnya, kemudian dengan cepat dengan mata terbuka, tekuk ke depan dan belakang, tengok dari samping ke samping, miringkan dari samping ke samping dan gerakkan secara diagonal. Ulangi dengan mata tertutup.
  1. Berdiri
  • Ulangi latihan 1 sambil berdiri.
  • Ubah posisi dari duduk ke posisi berdiri, pertama dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup.
  • Lempar sebuah bola dari tangan satu ke tangan lain setinggi di atas mata
  • Lempar sebuah bola dari tangan ke tangan di bawah lutut.
  • Ubah dari posisi duduk ke posisi berdiri, berbalik pertama pada sisi yang satu kemudian ke sisi yang lain
  1. Bergerak
  • berjalan melintasi ruangan dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup
  • berjalan naik turun pada permukaan yang landai dengan mata terbuka dan kemudian dengan mata tertutup
  • berjalan naik turun tangga dengan mata terbuka kemudian dengan mata tertutup.
  • Bangun duduk dan berbaring di tempat tidur
  • Duduk di kursi kemudian berdiri
  • Mengembalikan keseimbangan ketika didorong pada arah tertentu.
  • Lempar dan menangkap bola
  • Terlibat dalam permainan yang ada gerakan membungkuk, merentangkan dan mengarahkan seperti bowling, bola voley, atau shuffleboard

 

 

By muecliisonagirl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s