sistem penglihatan


RESUME
Sistem Penglihatan

Disusun oleh :
Muklis Sonati
01.09.082

PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES DIAN HUSADA
MOJOKERTO
2011 – 2012

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT.Karena atas Rahmat, Nikmat, dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas “ Resume Sistem Penglihatan ” ini dengan lancar dan tepat pada waktunya.
Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak, diantaranya :
1. Ibu Linda Presti F, S.kep,Ns,M.Kes Selaku fasilitator mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III
2. Pihak-pihak yang ikut serta dalam proses pembuatan makalah ini
Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerja samanya dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari sebagai mahasiswa tentunya masih banyak kekurangan dari diri kami, oleh karena itu jika nantinya ada kekurangan ataupun kesalahan dari hasil makalah kelompok kami tolong berikan kritik sekaligus saran untuk membangun dan menyempurnakan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin!.
Wassalamu’alaikum Wr. W

Mojokerto, 26 februari 2012

Penyusun

Resume
Sistem Penglihatan

I. Anatomi,Fisiologi dan Patofisiologi Sistem Penglihatan
A. Anatomi Mata
1. Rongga Orbital
Volume rongga orbita orang dewasa 30 mL, bola mata hanya mengisi 1/5 rongga orbita, sisanya lemak dan otot ekstraokuler, pembuluh darah, saraf, kelenjar getah bening dan jaringan ikat. Rongga orbita berbentuk limas segi 4 dengan puncaknya arah ke dalam.
Dinding orbita terdiri atas :
a. Atap Orbita Yaitu tulang frontal, dimana terdapat sinus frontalis.
b. Dinding Lateral Yaitu tulang Sphenoidale dan tulang Zygomaticus.
c. Dinding Medial Yaitu tulang Ethmoidale yang tipis, disini terdapat Sinus Ethmoidale dan Sinus sphenoidale.
d. Dasar Orbita Yaitu tulang Maxillaris dan tulang Zygomatikus. Pada tulang Maxillaris terdapat Sinus Maxillaris.
Kelenjar Lacrimalis terletak dalam fossa lacrimallis di bagian anterior lateral atap orbita. APEKS atau puncak rongga orbita adalah :
a) Tempat masuk saraf dan pembuluh darah ke mata.
b) Origo semua otot ekstra okuler, kecuali otot obliqus inferior

2. Kelopak Mata
Kelopak Mata dari luar ada 5 lapisan :
a. Lapisan Kulit : Kulit kelopak mata merupakan kulit yang paling tipis dari bagian tubuh manusia, dan tanpa adanya lemak subcutan.
b. Lapisan Otot Orbicularis Oculi : Menutup mata, disarafi oleh n. VII. Otot ini ada 2 bagian yaitu Pratarsal yaitu otot yang terdapat dalam kelopak mata dan bagian Preseptal yaitu terdapat diatas septum orbitale.
c. Jaringan Areolar : Yaitu rongga di bawah otot orbicularis oculi, yang berhubungan antara mata kanan dan kiri dan juga berhubungan dengan lapisan sub apponeurotik dari kulit kepala.
d. Tarsus : Merupakan jaringan fibrous padat dengan sedikit jaringan elastis. Dibagi menjadi tarsus superior dan inferior. Tarsus superior lebih lebar dari yang inferior.
e. Konjungtiva Palpebra atau Konjungtiva Tarsalis : Bagian dalam kelopak mata yang berhubungan langsung dengan bola mata, melekat erat dengan tarsus.
f. Tepian Palpebra (Margo Palpebra) : Pinggir bebas palpebra panjangnya 25–30 mm dan lebarnya 2 mm. Pinggir anterior (luar) dipisahkan dari pinggir posterior (dalam) oleh garis kelabu (Schwabel Line).
a) Tepi Anterior terdapat : Bulu Mata dan Kelenjar Zeiss dan Moll
b) Tepi Posterior yang langsung kontak dengan bola mata, disini terdapat kelenjar Meibom.
Punctum Lacrimalis terdapat pada ujung medial dari tepi posterior palpebra. Punctum ini berfungsi sebagai ekskresi air mata melalui kanalis lakrimalis terus menuju ke sakkus lakrimalis.
g. Retraktor Palpebra (Membuka Palpebra) : Pada palpebra superior (atas) terdapat Musculus Levator Palpebra dan Musculus Muller yang berfungsi untuk membuka mata yang dipersarafi oleh N. III. Pada palpebra inferior yang ada hanya Musculus Muller sehingga Palpebra inferior tidak bisa membuka dengan lebar

3. Sistem Lakrimal
Sistim lakrimal terdiri dari :
a. Sekresi yaitu Kelenjar Lakrimalis terdiri atas 2 bagian :
a) Bagian Orbita : Dalam fossa lakrimalis di bagian temporal anterior rongga orbita. Dari luar dicapai dengan irisan kulit menembus muskulus orbikularis okuli dan septum orbitale.
b) Bagian Palpebra : Terletak di segmen temporal dari fornik konjungtiva superior.
b. Excresi terdiri dari :
a) Pungtum Lakrimalis.
b) Kanalis Lakrimalis.
c) Sakkus Lakrimalis.
d) Duktus Nasolakrimalis.

4. Bola Mata
a. Dinding Bola Mata
a) Konjungtiva terdiri dari :
• Konjungtiva palpebra : Permukaan dalam palpebra dan melekat erat pada tarsus.
• Konjungtiva fornik : Peralihan konjungtiva palpebra ke konjungtiva bulbi.
• Konjungtiva bulbi : Yaitu lanjutan konjungtiva fornik yang melekat longgar ke septum orbitale di fornik melanjutkan melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya
b) Sklera dan Episklera : Sklera adalah jaringan fibrous pelindung mata di bagian luar. Permukaan luar anterior dibungkus oleh jaringan elastis halus yang disebut episklera.
c) Kornea : jaringan transparan dengan ketebalan : di tengah 0,54 mm, di tepi 0,65 mm, dan diameternya sekitar 11,50 mm. kekuatan refraksi kornea 40 Dioptri. Dari luar ke dalam kornea terdiri atas 5 lapisan sbb :
• Lapisan Epitel : 5-6 lapis sel.
• Lapisan Bowman : satu lapis sel.
• Stroma : 90% ketebalan kornea.
• Membran Desement : lapisan membran elastis jernih.
• Lapisan Endotel : berhubungan langsung dengan cairan aquos humor.

b. Isi bola mata
a) Segmen anterior terdiri dari :
• Uvea Anterior (iris dan badan siliaris).Uvea sendiri ada 3 bagian (iris, badan silinder,dan choroid )
 Iris : Perpanjangan korpus siliaris ke anterior, merupakan permukaan pipih dengan lubang di tengah yang disebut pupil. Pupil mengendalikan cahaya yang masuk dengan mengecil (miosis) akibat aktivitas parasimpatis melalui N. III dan juga pupil bisa melebar (midriasis) oleh aktivitas saraf simpatis.
 Badan siliaris : Badan siliaris mempunyai processus ciliaris berfungsi membentuk aquous humor.
• Lensa mata : Lensa bentuk bikonvek, avaskuler, tidak berwarna, hampir transparan sempurna. Tebal 4 mm dan diameternya 9 mm. kekuatan refraksi lensa 20 Dioptri. Digantung Zonulla Zinii yang menghubungkannya dengan corpus siliare. Lensa terdiri dari 65 % air dan 35 % protein.

b) Segmen posterior terdiri dari :
• Badan Kaca (Korpus Vitreus) : Vitreus adalah suatu bahan Gellatin yang jernih dan avasculer yang membentuk 2/3 dari volume dan berat bola mata. Vitreus terdiri dari air 99 %, dan sisanya 1 % meliputi kolagen dan asam hialuronat. Yang memberi bentuk dan konsistensi mirip gel karena kemampuannya mengikat air.
• Choroid : Choroid segmen posterior uvea, di antara lapisan retina dan sklera. Choroid di sebelah dalam dibatasi oleh membran Brunch dan sebelah luar di batasi oleh sklera (lapisan vaskuler tengah mata, memberi perdarahan retina).
• Retina : Selembar tipis jaringan saraf, semitransparan multilapis, melapisi bagian dalam 2/3 posterior dinding bola mata. Retina terdiri dari 10 lapisan pigmen epitelium. Berhubungan langsung dengan membran Brunch dari Choroid, permukaan dalam yaitu membrane limitan interna berhubungan langsung dengan badan kaca.
Di tengah retina bagian posterior terdapat makula lutea yang di tengahnya ada cekungan yang disebut fovea. Pada fovea ini, fotoreseptornya hanya terdiri dari selkerucut saja.
Fovea sepenuhnya diperdarahi oleh khoriokapiler khoroid yang berada di luar membran Brunch. 1/3 retina diperdarahi oleh khoriokapiler khoroid, sedangkan 2/3 bagian dalam retina diperdarahi oleh cabang-cabang arteri sentralis retina, kecuali daerah macula lutea hanya diperdarahi oleh khoriokapiler khoroid secara difusi. Lapisan retina mulai dari bagian dalam adalah sebagai berikut:
 Membran limitan interna.
 Lapisan serat saraf.
 Lapisan sel ganglion.
 Lapisan sel flexiform dalam.
 Lapisan nucleus dalam sel bipolar.
 Lapisan sel flexiform luar.
 Lapisan nucleus luar sel fotoreceptor.
 Membran limitan externa.
 Lapisan sel batang dan kerucut.
 Lapisan pigmen epithelium retina
• Papil Saraf Optik : Papil saraf optik merupakan cekungan dipermukaan retina. Dengan diameter 1,5 mm. pencekungan mempunyai arti klinis penting pada glaucoma kronik simple.

B. Fisiologi Penglihatan
1. Cahaya masuk ke mata dan di belokkan (refraksi) ketika melalui kornea dan struktur-struktur lain dari mata (kornea, humor aqueous, lensa, humor vitreous) yang mempunyai kepadatan berbeda-beda untuk difokuskan di retina, hal ini disebut kesalahan refraksi.
2. Mata mengatur (akomodasi) sedemikian rupa ketika melihat objek yang jaraknya bervariasi dengan menipiskan dan menebalkan lensa. Pemglihatan dekat memerlukan kontraksi dari badan ciliary, yang bisa memendekkan jarak antara kedua sisi badan ciliary yang diikuti dengan relaksasi ligamen pada lensa. Lensa menjadi lebih cembung agar cahaya dapat terfokuskan pada retina. Penglihatan yang terus menerus dapat menimbulkan ketegangan mata karena kontraksi yang menetap (konstan) dari otot-otot ciliary. Hal ini dapat dikurangi dengan seringnya mengganti jarak antara objek dengan mata. Akomodasi juga dinbantu dengan perubahan ukuran pupil. Penglihatan dekat, iris akan mengecilkan pupil agar cahaya lebih kuat melelui lensa yang tebal.
3. Cahaya diterima oleh fotoreseptor pada retina dan dirubah menjadi aktivitas listrik diteruskan ke kortek. Serabut-serabut saraf optikus terbagi di optik chiasma (persilangan saraf mata kanan dan kiri), bagian medial dari masing-masing saraf bersilangan pada sisi yang berlawanan dan impuls diteruskan ke korteks visual.
4. Tekanan dalam bola mata (intra occular pressure/IOP)
Tekanan dalam bola mata dipertahankan oleh keseimbangan antara produksi dan pengaliran dari humor aqueous. Pengaliran dapat dihambat oleh bendungan pada jaringan trabekula (yang menyaring humor aquoeus ketika masuk kesaluran schellem) atau dfengan meningkatnya tekanan pada vena-vena sekitar sclera yang bermuara kesaluran schellem. Sedikit humor aqueous dapat maengalir keruang otot-otot ciliary kemudian ke ruang suprakoroid. Pemasukan kesaluran schellem dapat dihambat oleh iris. Sistem pertahanan katup (Valsava manuefer) dapat meningkatkan tekanan vena. Meningkatkan tekanan vena sekitar sklera memungkinkan berkurangnya humor aquoeus yang mengalir sehingga dapat meningkatkan IOP. Kadang-kadang meningkatnya IOP dapat terjadi karena stress emosional.

C. Patofisiologi Penglihatan (Ablasi Retina)
Apabila karena suatu sebab terjadi gerakan pada badan kaca maka akan terjadi tarikan yang menyebabkan robekan pada retina, sehingga yang tadinya mendapat nutrisi dari pembuluh darah kario kapiler tidak lagi mendapat nutrisi yang baik dari koroid,sehingga akan terjadi penghancuran sel kerucut dari sel batang akibatnya akan terjadi degenerasi dan atior sel reseptor retina.
Pada saat terjadi degenerasi retina, maka akan terjadi kompenasi dari sel epitel pigmen yang melakukan serbukan sel ke daerah degenerasi sehingga akan terlihat sel epitel pigmen di depan retina. Tetapi bila degenerasi berlangsung lama, sel pigmen akan bermigrasi ke dalam cairan sub retina dan ke dalam sel reseptor kerucut dan batang.
Bila pada retina terdapat rupture besar maka badan kaca akan masuk ke dalam cairan sub retina. Apabila terjadi kontak langsung antara badan kaca dengan koroid maka akan terjadi degenerasi koroid. Apabila terjdi degenerasi sel reseptor maka keadaan ini akan berlanjut ke dalam jaringan yang lebih dalam yang kemudian jaringan ini diganti dengan jaringan glia. Akhirnya penglihatan akan sangat menurun, karena fungsi saraf masih baik maka penglihatan yang paling jelek hanya mampu membedakan gelap terang.
Bila proses diatas belum terjadi dan ablasi retina ditemukan dini dan kemudian kedudukan retina dikembalikan ke tempat semula ( asal ), maka akan terjadi pengembalian penglihatan yang sempurna.

II. Pengkajian ,Riwayat Kesehatan, Tanda dan gejalagangguan sistem penglihatan
A. Pengkajian , Riwayat Kesehatan, Tanda dan gejala gangguan sistem penglihatan

1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
b. Pemeriksaan Fisik
c. Prosedur Diagnostik
Prosedur Diagnostik
2. Riwayat Kesehatan
a. Data Demografi
• Usia : Kasus katarak, Mata kering, Retinal Detachment, Glaukoma, entropion, ectropion, akan meningkat engan bertambahnya usia
• Jenis Kelamin : Laki – laki mempunyai resiko lebih tinggi dari pada perempuan mengalami gangguan penglihatan secara herediter. Contoh color blind.
b. Keluhan Utama
• Yang paling sering : Perubahan penglihatan berkurang / hilang
• Kurang spesifik : sakit kepala, nyeri pada mata
c. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
• Pengkajian difokuskan pada status kesehatan secara umum
• Secara khusus : kaji kelainan sistemik yang berhubungan dengan manifestasi okuler seperti DM, Hypertensi,gangguan thyroid
 Masa kecil dan penyakit infeksi
 Major ilnesses dan hospitalization
 Pengobatan
 Alergi
d. Riwayat Kesehatan keluarga
Beberapa keadaan yang empunyai tendensi dengan keluarga terhadap kelainan okuler,antara lain :Strabismus, Glaukoma, Myopia, Hyperopi
e. Riwayat Psikososial dan Pola Hidup
Yang dapat mempengaruhi kesehatan mata :
• Pekerjaan ( Keterpaparan sinar ultra violet, injury kimia, thermis, dll)
• hobby
• leisure activity ( kegiatan di waktu luang )
• Lingkungan
f. Riwayat Kesehatan klien
• Kondisi kesehatan kesehatan klien memiliki efek langsung / tidak langsung terhadap masalah penglihatan:DM,Hypertensi,dll
• Insiden traumatik pada mata trutama faktor waktu
• Penggunaan alat bantu ( mulai, koreksi, terakhir periksa )
• Gejala penglihatan lain
• Penggunaan obat – obatan steroid, alergi
• Kebiasaan / perilaku
g. Riwayat Diet
Intake vitamin A saat sekarang dan periode waktu sebelumnya
h. Riwayat Kesehatan saat ini
• Penglihatan berkurang, suram, tidak bisa melihat
• Sakit / perasaan tidak nyaman pada mata
• Perubahan pada kelopak mata, Orbita, atau pada bola matanya langsung
• Banyak kotoran mata,banyak air mata, air mata kering
3. Tanda dan gejala
a. Mata terasa sangat sakit. Rasa sakit ini mengenai sekitar mata dan daerah belakang kepala .
b. Akibat rasa sakit yang berat terdapat gejala gastrointestinal berupa mual dan muntah , kadang-kadang dapat mengaburkan gejala glaukoma akut.
c. Tajam penglihatan sangat menurun.
d. Terdapat halo atau pelangi di sekitar lampu yang dilihat.
e. Konjungtiva bulbi kemotik atau edema dengan injeksi siliar.
f. Edema kornea berat sehingga kornea terlihat keruh.
g. Bilik mata depan sangat dangkal dengan efek tyndal yang positif, akibat timbulnya reaksi radang uvea.
h. Pupil lebar dengan reaksi terhadap sinar yang lambat.
i. Pemeriksaan funduskopi sukar dilakukan karena terdapat kekeruhan media penglihatan.
j. Tekanan bola mata sangat tinggi.
k. Tekanan bola mata antara dua serangan dapat sangat normal.

B. Pemeriksaan Fisik Mata
1. Pemeriksaan mata eksternal
a. Posisi mata
b. Alis mata
c. Palpebra dan bulu mata
d. Berkedip ( reflek blinking )
e. Bola mata
f. Aparatus lakrimalis
g. Conjungtiva dan sklera
h. Cornea
i. Reflek cornea
j. Anterior chamber
k. Iris dan pupil
2. Pemeriksaan motilitas bola mata
a. Fungsi : untuk mendapatkan mata tentang otot luar bola mata ,orbita, saraf kranial III, IV dan VI, brainstem, korteks serebral.
b. Normal : kedua bola mata bergerak mengikuti “ six cardinal direction of gaze ”( pandangan 6 arah ).
3. Pemeriksaan penglihatan
a. Ketajaman penglihatan ( visual acuity ) : merupakan metode yang rutin dan standar untuk menentukan keadan media okuler ( cornea, lensa dan vitreous ) dan fumgsi pathway penglihatan dari retina sampai ke otak.
b. Lapang Pandang ( visual fields) : dilakukan untuk mengevaluasi penglihatan perifer. Normal visual fields :
• 50 º arah superior
• 90 º arah lateral
• 70 º arah inferior
• 60 º arah medial
4. Pemeriksaan Mata Internal
a. Opthalmoscopy : untuk memeriksa bola mata bagian dalam / fundus mata.
b. Goniometry : untuk menentukan tekanan bola mata. Normal 8 – 21 mmHg.
c. Slit lamp ( lampu celah ) : untuk memeriksa penyakit / kelainan kelopak mata dan bola mata yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

C. Pemeriksaan Diagnostik
a. Fundus photography
b. Specular micrography
c. Exophthalmometry
d. Opthalmic radiology
e. Magnetic Resonance Imaging ( MRI )
f. Ultrasonography
g. Opthalmodynamometry
h. Electroretinography
i. Visual Evoked Response ( VER )
j. Flurescen Angiography

D. Lapang Pandang : Hal ini penting dilakukan untuk mendiagnosis dan menindaklanjuti pasien glaukoma. Lapang pandang glaukoma memang akan berkurang karena peningkatan TIO akan merusakan papil saraf optikus. Lapang Pandang diperiksa dengan 3 cara :
a. Goldman perimetri
b. Layar Tangen Screen.
c. Tes Konfrontasi, dengan menggunakan tangan pemeriksa dan tekhnik paling mudah.

E. Tajam Penglihatan
Jika ditulis Visus 6/6, artinya angka 6 di atas (pembilang) menunjukkan kemampuan jarak baca penderita, sedangkan angka 6 di bawah menunjukkan kemampuan jarak baca orang normal. Visus 6/60 artinya penderita hanya dapat menghitung jari pada jarak 6 meter, sedangkan pafa orang normal bisa menghitung dalam jarak 60 meter, begitu juga penilaian visus 5/60, 4/6, 3/60, 2/60, 1/60. Jika LP + berarti bisa membedakan gelap terang dan sebaliknya

F. Tonometri ( Tekanan Bola Mata ) : Alat ini berguna untuk menilai tekanan intraokular. Tekanan bola mata normal berkisar antara 10-21 mmHg. Tonometri ada 3 cara :
a. Tonometer Schiotz
b. Tonometer Aplanasi
c. Pemeriksaan secara digital dengan jari tangan
d. Non kontak tonometri

G. Kelainan Refraksi : keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidak seimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.
Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.

H. Kesan terhadap Warna
Penglihatan warna normal membutuhkan fungsi makula dan N. Optikus yang normal. Tekhnik yang paling umum dipakai adalah memakai buku “ISHIHARA”.

III. Prosedur Diagnostik
A. Flurescen Angiografi
Fluorescein angiography adalah tes yang memungkinkan pembuluh darah di belakang mata untuk difoto sebagai pewarna neon disuntikkan ke dalam aliran darah melalui tangan atau lengan ( tindakan invasif ). Hal ini terutama berguna dalam pengelolaan retinopati diabetes dan degenerasi makula. Tes ini dilakukan untuk membantu dokter mengkonfirmasi diagnosis, untuk memberikan panduan untuk pengobatan, dan untuk menjaga catatan permanen dari pembuluh di bagian belakang mata. Natrium fluorescein adalah senyawa kimia yang sangat neon yang menyerap cahaya biru dengan fluoresensi. Meskipun sering disebut sebagai fluorescein, pewarna yang digunakan dalam angiografi fluorescein adalah natrium, garam natrium dari fluorescein. Kesalahpahaman yang umum adalah bahwa itu adalah ‘sayur pewarna’ bukan sintetis.
Prosedur : Pasien akan dilebarkan dengan tetes mata dan pewarna kuning disuntikkan ke pembuluh darah di lengan Anda. Selama injeksi, bisa ada perasaan hangat atau flush panas dapat dialami. Ini hanya berlangsung detik dan kemudian menghilang. Setelah injeksi, foto yang diambil dengan cepat selama sekitar 60 detik sebagai pewarna memasuki pembuluh di bagian belakang mata Anda. Lampu menyala pada Anda mungkin terlihat cerah namun TIDAK akan merusak mata Anda. Adalah umum bagi kulit menjadi kuning pucat dan urin kuning neon berwarna setelah prosedur dan ini mungkin memerlukan dua hari untuk luntur.
Efek samping terjadi dalam 5 sampai 10 persen dari pasien dan dapat berkisar dari ringan sampai parah. Mual dan muntah kadang-kadang adalah reaksi yang paling umum dan tidak memerlukan pengobatan. Reaksi-reaksi ringan tampaknya terkait dengan volume zat warna dan laju injeksi, tapi belum ada penelitian yang belum dilakukan untuk mendukung kemungkinan itu. Reaksi yang lebih parah jarang terjadi, tetapi termasuk gatal-gatal, edema laring (pembengkakan laring), bronkospasme (kesulitan bernapas), syncope (pingsan), anafilaksis (reaksi alergi yang membutuhkan suntikan obat untuk melawan bertindak itu), infark miokard dan penangkapan jantung (serangan jantung dan penyumbatan jantung). Meskipun tidak ada resiko yang diketahui atau reaksi buruk yang terkait dengan kehamilan, kebanyakan praktisi akan menghindari melakukan angiografi fluorescein pada wanita hamil, terutama di trimester pertama

B. Flurescen Test
Flurescen Test adalah tes yang menggunakan pewarna oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada kornea, permukaan luar mata.
Test Dilaksanakan, Sepotong kertas blotting yang mengandung pewarna akan tersentuh ke permukaan mata Anda. Anda akan diminta untuk berkedip. Berkedip menyebar pewarna sekitar dan melapisi “film air mata” menutupi permukaan kornea. (Film air mata mengandung air, minyak, dan lendir untuk melindungi dan melumasi mata). Lampu biru ini kemudian diarahkan ke mata Anda. Setiap masalah pada permukaan kornea akan diwarnai dengan pewarna dan tampak hijau di bawah cahaya biru. Penyedia perawatan kesehatan dapat menentukan lokasi dan penyebab kemungkinan masalah kornea tergantung pada ukuran, lokasi, dan bentuk pewarnaan.
Tes ini berguna dalam mengidentifikasi goresan dangkal atau masalah lain dengan permukaan kornea. Hal ini juga dapat membantu mengungkapkan benda asing pada permukaan mata. Hal ini dapat digunakan setelah kontak yang diresepkan untuk menentukan apakah ada iritasi pada permukaan kornea.
Hasil normal, Jika hasil tes adalah normal, pewarna tetap dalam film air mata pada permukaan mata dan tidak mematuhi mata itu sendiri.Catatan: rentang nilai normal dapat sedikit berbeda antara laboratorium yang berbeda. Bicara dengan dokter tentang arti hasil spesifik Anda uji. Hasil Abnormal :
* Abnormal produksi air mata (mata kering)
* Kornea abrasi (goresan pada permukaan kornea)
* Asing tubuh, seperti bulu mata atau debu (lihat mata – benda asing di)
* Infeksi
* Cedera atau trauma
* Mata kering parah yang berhubungan dengan arthritis (keratoconjunctivitis sicca)

C. Elektro retinografi
Electroretinography (ERG) adalah tes mata digunakan untuk mendeteksi fungsi abnormal dari retina (bagian cahaya mendeteksi mata). Secara khusus, dalam tes ini, peka cahaya sel mata, batang dan kerucut, dan sel menghubungkan mereka ganglion di retina diperiksa. Selama pengujian, elektroda ditempatkan pada kornea (di depan mata) untuk mengukur respon listrik untuk menyalakan sel rasa cahaya di retina di belakang mata. Sel-sel ini disebut batang dan kerucut.
ERG dilakukan, Pasien mengasumsikan posisi yang nyaman (berbaring atau duduk). Biasanya mata pasien yang melebar terlebih dahulu dengan standar tetes mata melebar. Tetes anestesi kemudian ditempatkan di mata, menyebabkan mereka menjadi mati rasa. Kelopak mata ini kemudian disangga terbuka dengan spekulum, dan elektroda yang lembut ditempatkan pada setiap mata dengan perangkat yang sangat mirip dengan lensa kontak. Sebuah elektroda tambahan ditempatkan pada kulit untuk menyediakan dasar untuk sinyal-sinyal listrik yang sangat samar yang dihasilkan oleh retina.
Selama sesi rekaman ERG, pasien menonton stimulus cahaya standar, dan sinyal yang dihasilkan ditafsirkan dalam hal tentu saja amplitudo (tegangan) dan waktu. Tes ini bahkan dapat dilakukan pada anak kooperatif, serta bayi dibius atau terbius. Rangsangan visual meliputi berkedip, yang disebut ERG flash, dan pola kotak-kotak membalikkan, yang dikenal sebagai pola ERG.
Elektroda mengukur aktivitas listrik dari retina sebagai respon terhadap cahaya. Informasi yang berasal dari elektroda setiap ditularkan ke monitor mana ia ditampilkan sebagai dua jenis gelombang, diberi label A gelombang dan gelombang B.
Pembacaan eletroretinography, Bacaan selama eletroretinography biasanya diambil pertama di cahaya ruangan normal. Lampu-lampu tersebut kemudian redup selama 20 menit, dan bacaan yang lagi diambil sementara cahaya putih bersinar ke dalam mata. Pembacaan akhir diambil sebagai flash terang diarahkan mata.
Sebuah ERG berguna dalam mengevaluasi kedua kelainan bawaan (keturunan) dan diperoleh dari retina. Sebuah ERG juga dapat berguna dalam menentukan apakah operasi retina atau jenis operasi mata seperti ekstraksi katarak mungkin berguna.
D. Anel test
Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari bagian eksresi baik atau tidak. Uji anel negative merupakan kontraindikasi mutlak untuk tindakan operasi intraokuler karena kuman dapat masuk kedalam mata
Cara melakukan uji anel
1. Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
2. Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok tetapi tidak tajam
3. Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung
4. Uji anel positif jika terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung. Uji anel negatif jika tidak terasa asin. Hal ini berarti ada kelainan di dalam saluran eksresi. Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kananlikuli lakrimal inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.

By muecliisonagirl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s