CVA(STROKE BLEEDING)


CEREBRO VASCULAR ACCIDENT (STROKE BLEEDING)

 

A.  Pengertian

Defisit neurologi yang mempunyai sifat mendadak dan berlangsung dalam 24 jam sebagai akibat dari pecahnya pembuluh darah di otak yang di akibatkan oleh aneurisma atau malformasi arteriovenosa yang dapat menimbulkan iskemia atau infark pada jaringan fungsional otak (Purnawan Junadi, 1982).

 

B.  Etiologi

1.    Enurisma yang pecah (ruptura arteria serebri).

2.    Malformasi arteriovenosa.

 

C.  Faktor pendukung terjadinya stroke (bleeding)

1.    Tekanan darah tinggi.

2.    Klien yang mendapat pengobatan anti koagulantia.

 

D.  Pathofisiologi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Sylvia Anderson Price, 1982)

E.   Gejala klinik

–   Sakit kepala yang hebat.

–   Wajah asimetris.

–   Tak sadar/ pingsan.

–   Bingung.

–   Lateralisasi/ hemiparese/ paraparese.

–   Gangguan bicara.

F.   Pemeriksaan diagnostik/ penunjang

1.    Angiografi serebral

Membantu menentukan penyebab dari stroke secara apesifik seperti perdarahan arteriovena atau adanya ruptur.

2.    CT Scan

Memperlihatkan secara spesifik letak oedema, posisi henatoma, adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti.

3.    Pungsi lumbal.

Tekanan yang meningkat dan di sertai dengan bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya haemoragia pada sub arachnoid atau perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah protein menunjukan adanya proses inflamasi.

4.    MRI (magnetic Imaging Resonance)

Dengan menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi serta besar/ luas terjadinya perdarahan otak.

5.    USG Dopler.

Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (Masalah sistem karotis).

6.    EEG

Melihat masalah yang timbul dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam jaringan otak.

G.  Penatalaksanaan

1.    Terapi konsevatif

Memperbaiki keadaan umum, pemberian vasodilator, anti agregasi trombosit

2.    Terapi pembedahan

Endarterektomi à membentuk kembali pembuluh darah.

 

H.  Komplikasi

1.    Hidrosepalus.

2.    Disritmia.

3.    Afasia.

4.    Hemiparese/ paraparese.

 

I.     Pengkajian

1.    Riwayat kesehtan yang bergubungan dengan faktor pendukung terjadinya stroke,  serta bio- psiko- sosio- spiritual.

2.    Peredaradan darah

Pernah menderita penyakit jantung, denyut nadi yang tidak teratur, Polisitemia, atau riwayat tekanan darah tinggi.

3.    Eliminasi

Perubahan pola eliminasi (Anuria, inkontinensia uri), distensi abdomen, menghilangnya bising usus.

4.    Aktivitas/ istirahat

Terdapat penurunan aktivitas karena kelemahan tubuh, kehilangan sensasi atau parese/ plegia, mudah lelah, sulit dalam beristirahat karena kejang otot atau spasme dan nyeri. Menurunnya tingkat kesadaran, menurunya kekuatan otot, kelemahan tubuh secara umum.

5.    Nutrisi dn cairan

Adanya riwayat menderita Diabetes Melitus, anoreksia, mual muntah akibat peningkatan TIK (tekanan intra kranial), gangguan menelan, dan kehilangan sensasi pada lidah.

6.    Persarafan

Pusing/ syncope, nyeri kepala, menurunya luas lapang pandang/ pandangan kabur, menurunya sensasi raba terutama pada daerah muka dan ekstrimitas. Status mental koma, kelmahan pada ekstrimitas, paralise otot wajah, afasia, pupil dilatasi, penurunan pendengaran.

7.    Kenyamanan

Ekspresi wajah yang tegang, nyeri kepala, gelisah.

8.    Pernafasan

Batuk, dyspnea, riwayat perokok.

9.    Keamanan

Memungkinkan terjadinya kecelakaan akibat dari pandangan yang kabur, penurunan sensasi rasa (panas dan dingin).

10.    Psikolgis

Tidak kooperatif, merasa tidak berdaya, tidak mempunyai harapan, perubahan pada konsep diri, dan kesukaran dalam mengekspresikan perasaannya.

11.    Interaksi sosial

Kesulitan dalam melakukan komunikasi karena afasia.

 

J.     Masalah  dan rencana tindakan keperawatan

1.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler pada ekstrimitas.

Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik.

a.    Kaji kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.

b.    Ajarkan pada pasien tentang rentang gerak yang masih dapat di lakukan.

c.    Lakukan latihan secara aktif dan pasif pada akstrimitas untuk mencegah kekakuan otot dan atrofi.

d.   Anjurkan pasien untuk mengambil posisi yang lurus.

e.    Bantu pasien secara bertahap dalam melakukan ROM sesuai kemampuan.

f.     Kolaborasi dalam pemberian antispamodic atau relaxant jika di perlukan.

g.    Observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas

 

2.    Penurunan perfusi jaringan otak berhubungan dengan edema cerebri, perdarahan pada otak.

Tujuan: Pasien menunjukan adanya peningkatan kesadaran, kognitif dan fungsi sensori.

a.    Kaji status  neurologis dan catat perubahannya.

b.    Berikan pasien posisi terlentang.

c.    Kolaborasi dalam pemberian O2.

d.   Observasi tingkat kesadaran, tanda vital.

 

3.    Resiko tinggi terhadap terjadinya cidera berhubungan dengan penurunan luas lapang pandang, penurunan sensasi rasa (panas, dingin)

Tujuan: Pasien menggunakan alat yang aman dalam melakukan aktivitas

a.    Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko terjadinya cidera.

b.    Ajarkan pada pasien untuk menggunakan alat bantu secara benar dan aman.

c.    Ciptakan lingkungan yang aman.

d.   Sajikan makanandan minuman dalam keadaan hangat.

e.    Observasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas secara aman.

 

4.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan efek dari kerusakan pada area bicara pada himisfer otak.

Tujuan: Pasien mampu melakukan komunikasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dan menunjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan komunikasi.

a.    Lakukan komunkasi dengan pasien (sering tetapi pendek serta  mudah di pahami).

b.    Ciptakan suatu suasana penerimaan terhadap perubahan yang dialami pasien.

c.    Ajarkan pada pasien untuk memperbaiki  tehnik berkomunikasi.

d.   Pergunakan tehnik komunikasi non verbal.

e.    Kolaborasi dalam pelaksanaan terapi wicara.

f.     Observasi kemampuan pasien dalam melakukan komunikasi baik verbal maupun non verbal.

 

5.    Perubahan konsep diri berhubungan dengan perubahan persepsi.

Tujuan: Pasien menunjukan peningkatan kemampuan dalam menerima keadaan nya.

a.    Kaji pasien terhadap derajat perubahan konsep diri.

b.    Dampingi dan dengarkan keluhan pasien.

c.    Beri dukungan terhadap tindakan yang bersifat positif.

d.   Kaji kemampuan pasien dalam beristirahat (tidur).

e.    Observasi kemampuan pasien dalam menerima keadaanya.

 

6.    Resiko terjadinya ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan: Pasien menunjukan kemauan untuk melakukan kegiatan penatalak- sanaan.

a.    Identifikasi faktor yang dapat menimbulkan ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.

b.    Diskusikan dengan pasien cara-cara untuk mengatasi faktor penghambat tersebut.

c.    Jelaskan pada pasien akibat dari ketidak patuhan terhadap penatalaksanaan.

d.   Libatkan keluarga dalam penyuluhan.

e.    Anjurkan pada pasien untuk melakukan kontrol secara teratur.


DAFTAR PUSTAKA

 

Doengoes, Marylin E., 1989, Nursing Care Plans, USA Philadelphia: F.A Davis Company.

 

 

Junadi, Purnawan,  1982, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

 

Price, Sylvia Anderson, 1985, Pathofisiologi Konsep klinik proses-proses penyakit, Jakarta: EGC.

 

Advertisements
By muecliisonagirl

Strategi Pelaksanaan (SP) Halusinasi


Strategi Pelaksanaan (SP) Halusinasi

 

Pada Klien
SP I
1.    Mengidentifikasi  jenis halusinasi pasien
2.    Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3.    Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4.    Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5.    Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
6.    Mengidentifikasi  respons pasien terhadap halusinasi
7.    Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8.    Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian

SP II
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP III
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.    Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan kegiatan (kegiatan yang biasa dilakukan pasien di rumah)
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

SP IV
1.    Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan obat secara teratur
3.    Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

Pada Keluarga Klien
SP I
1.    Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien
2.    Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, dan jenis halusinasi yang dialami pasien beserta proses terjadinya
3.    Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi
SP II
1.    Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan Halusinasi
2.    Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien Halusinasi
SP III
1.    Membantu keluarga membuat jadual aktivitas di rumah termasuk minum obat  (discharge planning)
2.    Menjelaskan  follow up pasien setelah pulang

By muecliisonagirl

Asuhan Keperawatan Thalasemia


Asuhan Keperawatan Thalasemia

 

Disusun oleh  :Muklis Sonati

 

 

 

 

                                 PRODI S1 KEPERAWATAN STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO

2012

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT.Karena atas Rahmat, Nikmat, dan Hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah “ Hematologi ” ini dengan lancar dan tepat pada waktunya.

Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak, diantaranya :

1.      Ibu, S.kep,Ns. Selaku fasilitator mata kuliah Keperawatan Anak.

2.      Pihak-pihak yang ikut serta dalam proses pembuatan makalah ini

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dan kerja samanya dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami  menyadari sebagai mahasiswa tentunya masih banyak kekurangan dari diri kami, oleh karena itu jika nantinya ada kekurangan ataupun kesalahan dari hasil makalah kelompok kami tolong berikan kritik sekaligus saran untuk membangun dan menyempurnakan makalah ini.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin!.

Wassalamu’alaikum Wr. W

 

Mojokerto,19 Maret 2012

Penyusun

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Saat ini, penyakit thalassemia merupakan penyakit genetika yang paling banyak di Indonesia.  Frekuensinya terus meningkat dengan penderita sekitar 2000 orang per tahun. Walupun begitu, masyarkat  tidak menaruh perhatian yang cukup besar terhadap penyakit yang sudah menjadi salah satu penyakit genetika terbanyak ini.  Hal ini disebabkan karena gejala awal dari penyakit sangat umum seperti anemia dan muntah-muntah. Padahal gejala akhir yang ditimbulkan akan sangat fatal jika tidak ditangani secara akurat, cepat, dan tepat.

 

1.2  Rumusan Masalah

  1. Apakah yang menyebabkan penyakit Thalassemia ?
  2. Bagaimana gejala dan pengobatan penyakit Thalassemia ?
  3. Bagaimana asuhan keperwatan penyakit Thalassemia ?

1.3  Tujuan

Tujuan Umum

Mampu menjelaskan apa yang dimaksud dengan Thalassemia

Tujuan Khusus

  1. Mampu menjelaskan definisi Thalassemia
  2. Mampu menjelaskan penyebab penyakit Thalassemia
  3. Mampu menjelaskan gejala dan pengobatan penyakit Thalassemia
  4. Mampu menjelaskan Asuhan keperawatan penyakit Thalassemia

1.4  Manfaat

Manfaat yang ingin diperoleh dalam penyusunan makalah ini adalah:

  1. Mendapatkan pengetahuan tentang definisi Thalassemia
  2. Mendapatkan pemahaman tentang penyebab penyakit Thalassemia
  3.  Mendapatkan pemahaman tentang gejala dan pengobatan penyakit Thalassemia
  4. Mendapatkan pemahaman tentang Asuhan keperawatan penyakit Thalassemia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORI

 

2.1. Pengertian Thalasemia

Thalasemia adalah penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan dari kedua orang tua kepadaanak-anaknya secara resesif.

Menurut Hukum Mandel Thalasemia adalah sekelompok penyakit atau keadaan herediter dimana produksi satu atau lebihdari satu jenis rantai polipeptida terganggu.

Thalasemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai oleh defesiensi produksi rantai globin pada haemoglobin. (Suryadi, 2001)

Thalasemia merupakan penyakit anemia hemofilia dimana terjadi kerusakan sel darah merah di dalampembuluh darah sehingga umur eritrosit pendek (kurang dari 100 hari). (Ngastiyah, 1997).

Jadi Thalasemia adalah penyakit anemia hemolitik dimana terjadi kerusakan sel darah merah (eritrosit) sehingga umur eritrosit pendek (kurang dari 100 hari), yang disebabkan oleh defesiensi produksi satu , yang diturunkan dari keduab dan aatau lebih dari satu jenis rantai  orang tua kepada anak-anaknya secara resesif.

2.2. Macam – macam Thalasemia

  1.  Thalasemia beta

Merupakan anemia yang sering dijumpai yang diakibatkan oleh defek yang diturunkan dalam sintesis rantai beta hemoglobin.

Thalasemia beta meliputi:

  1. Thalasemia beta mayor

Bentuk homozigot merupakan anemia hipokrom mikrositik yang berat dengan hemolisis di dalam sumsum tulang dimulai pada tahun pertama kehidupan.Kedua orang tua merupakan pembawa “ciri”. Gejala – gejala bersifat sekunder akibat anemia dan meliputi pucat, wajah yang karakteristik akibat pelebaran tulang tabular pada tabular pada kranium, ikterus dengan derajat yang bervariasi, dan hepatosplenomegali.

  1. Thalasemia Intermedia dan minor

Pada bentuk heterozigot, dapat dijumpai tanda – tanda anemia ringan dan splenomegali. Pada pemeriksaan darah tepi didapatkan kadar Hb bervariasi, normal agak rendah atau meningkat (polisitemia). Bilirubin dalam serum meningkat, kadar bilirubin sedikit meningkat.

  1. Thalasemia alpa

Merupakan thalasemia dengan defisiensi pada rantai a

2.4.            Etiologi

Faktor genetik yaitu perkawinan antara 2 heterozigot (carier) yang
menghasilkan keturunan Thalasemia (homozigot).

 

2.5.            Komplikasi yang dapat terjadi pada Klien dengan thalasemia

2.6.  PATOFISIOLOGI

Penyebab anemia pada thalasemia bersifat primer dan sekunder. Penyebab primer adalah berkurangnya sintesis Hb A dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran sel-sel eritrosit intrameduler. Penyebab sekunder adalah karena defisiensi asam folat,bertambahnya volume plasma intravaskuler yang mengakibatkan hemodilusi, dan destruksi eritrosit oleh system retikuloendotelial dalam limfa dan hati.

Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. Tejadinya hemosiderosis merupakan hasil kombinasi antara transfusi berulang,peningkatan absorpsi besi dalam usus karena eritropoesis yang tidak efektif, anemia kronis serta proses hemolisis.

  • Normal hemoglobin adalah terdiri dari Hb-A dengan dua polipeptida rantai alpa dan dua rantai beta.
  • Pada Beta thalasemia yaitu tidak adanya atau kurangnya rantai Beta dalam molekul hemoglobin yang mana ada gangguan kemampuan eritrosit membawa oksigen.
  • Ada suatu kompensator yang meninghkatkan dalam rantai alpa, tetapi rantai Beta memproduksi secara terus menerus sehingga menghasilkan hemoglobin defektive. Ketidakseimbangan polipeptida ini memudahkan ketidakstabilan dan disintegrasi. Hal ini menyebabkan sel darah merah menjadi hemolisis dan menimbulkan anemia dan atau hemosiderosis.
  • Kelebihan pada rantai alpa pada thalasemia Beta dan Gama ditemukan pada thalasemia alpa. Kelebihan rantai polipeptida ini mengalami presipitasi dalam sel eritrosit. Globin intra-eritrositk yang mengalami presipitasi, yang terjadi sebagai rantai polipeptida alpa dan beta, atau terdiri dari hemoglobin tak stabil-badan Heinz, merusak sampul eritrosit dan menyebabkan hemolisis.
  • Reduksi dalam hemoglobin menstimulasi bone marrow memproduksi RBC yang lebih. Dalam stimulasi yang konstan pada bone marrow, produksi RBC diluar menjadi eritropoitik aktif. Kompensator produksi RBC terus menerus pada suatu dasar kronik, dan dengan cepatnya destruksi RBC, menimbulkan tidak adekuatnya sirkulasi hemoglobin. Kelebihan produksi dan distruksi RBC menyebabkan bone marrow menjadi tipis dan mudah pecah atau rapuh.

 

2.7.  MANIFESTASI KLINIS

Bayi baru lahir dengan thalasemia beta mayor tidak anemis. Gejala awal pucat mulanya tidak jelas, biasanya menjadi lebih berat dalam tahun pertama kehidupan dan pada kasus yang berat terjadi beberapa minggu pada setelah lahir. Bila penyakit ini tidak ditangani dengan baik, tumbuh kembang masa kehidupan anak akan terhambat. Anak tidak nafsu makan, diare, kehilangan lemak tubuh dan dapat disertai demam berulang akibat infeksi. Anemia berat dan lama biasanya menyebabkan pembesaran jantung.
Terdapat hepatosplenomegali. Ikterus ringan mungkin ada. Terjadi perubahan pada tulang yang menetap, yaitu terjadinya bentuk muka mongoloid akibat system eritropoesis yang hiperaktif. Adanya penipisan korteks tulang panjang, tangan dan kaki dapat menimbulkan fraktur patologis. Penyimpangan pertumbuhan akibat anemia dan kekurangan gizi menyebabkan perawakan pendek. Kadang-kadang ditemukan epistaksis, pigmentasi kulit, koreng pada tungkai, dan batu empedu. Pasien menjadi peka terhadap infeksi terutama bila limpanya telah diangkat sebelum usia 5 tahun dan mudah mengalami septisemia yang dapat mengakibatkan kematian. Dapat timbul pensitopenia akibat hipersplenisme. Hemosiderosis terjadi pada kelenjar endokrin (keterlambatan dan gangguan perkembangan sifat seks sekunder), pancreas (diabetes), hati (sirosis), otot jantung (aritmia, gangguan hantaran, gagal jantung), dan pericardium (perikerditis).

  1. Secara umum, tanda dan gejala yang dapat dilihat antara lain:
    1. Letargi
    2. Pucat
    3. Kelemahan
    4. Anoreksia
    5. Sesak nafas
    6. Tebalnya tulang kranial
    7. Pembesaran limpa
    8. Menipisnya tulang kartilago
    9. Thalasemia mayor, gejala klinik telah terlihat sejak anak baru berumur kurang dari 1 tahun, yaitu:

a.       Lemah

b.       Pucat

c.        Perkembangan fisik tidak sesuai dengan umur

d.       Berat badan kurang

e.        Tidak dapat hidup tanpa transfusi

  1. Thalasemia intermedia : ditandai oleh anemia mikrositik, bentuk heterozigot.
  2. Thalasemia minor/thalasemia trait : ditandai oleh splenomegali, anemia berat, bentuk homozigot.
    Pada anak yang besar sering dijumpai adanya:
  • Gizi buruk
  • Perut buncit karena pembesaran limpa dan hati yang mudah diraba
  • Aktivitas tidak aktif karena pembesaran limpa dan hati (Hepatomegali ), Limpa yang besar ini mudah ruptur karena trauma ringan saja

Gejala khas adalah:

a.       Bentuk muka mongoloid yaitu hidung pesek, tanpa pangkal hidung, jarak antara kedua mata lebar dan tulang dahi juga lebar.

b.       Keadaan kuning pucat pada kulit, jika sering ditransfusi, kulitnya menjadi kelabu karena penimbunan besi.

 

2.8.  PEMERIKSAAN PENUNJANG

Studi hematologi ( Hasil apusan darah tepi ) : terdapat perubahan – perubahan pada sel darah merah, yaitu mikrositosis, hipokromia, anosositosis, poikilositosis, sel target, eritrosit yang immature, penurunan hemoglobin dan hematrokrit.

Elektroforesis hemoglobin : hemoglobin klien mengandung HbF dan A2 yang tinggi, biasanya lebih dari 30 % kadang ditemukan hemoglobin patologis.

Pada thalasemia beta mayor ditemukan sumsum tulang hiperaktif terutama seri eritrosit. Hasil foto rontgen meliputi perubahan pada tulang akibat hiperplasia sumsum yang berlebihan. Perubahan meliputi pelebaran medulla, penipisan korteks, dan trabekulasi yang lebih kasar.

Analisis DNA, DNA probing, gone blotting dan pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) merupakan jenis pemeriksaan yang lebih maju.

 

2.9.  PENATALAKSAAN

  1. Hingga kini belum ada obat yang tepat untuk menyembuhkan pasien thalasemia. Transfusi darah diberikan jika kadar Hb telah rendah sekali (kurang dari 6 gr%) atau bila anak terlihat lemah dan tidak ada nafsu makan.
  2. Pemberian transfusi hingga Hb mencapai 10 g/dl. Komplikasi dari pemberian transfusi darah yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya penumpukan zat besi yang disebut hemosiderosis. Hemosiderosis dapat dicegah dengan pemberian Deferoxamine(desferal).
  3. Splenektomi dilakukan pada anak yang lebih tua dari 2 tahun sebelum terjadi pembesaran limpa/hemosiderosis, disamping itu diberikan berbagai vitamin tanpa preparat besi.
  4. Pemberian chelating agents (Desferal) secara intravena atau subkutan. Desferiprone merupakan sediaan dalam bentuk peroral. Namun manfaatnya lebih rendah dari desferal dan memberikan bahaya fibrosis hati.
  5. Transplantasi sumsum tulang biasa dilakukan pada thalasemia beta mayor.

2.10.        Pencegahan

  1. Pencegahan primer :

Penyuluhan sebelum perkawinan (marriage counselling) untuk mencegah perkawinan diantara pasien Thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan yang homozigot. Perkawinan antara 2 hetarozigot (carrier) menghasilkan keturunan 25 % Thalasemia (homozigot), 50 % carrier (heterozigot) dan 25 normal.

  1. Pencegahan sekunder

Pencegahan kelahiran bagi homozigot dari pasangan suami istri dengan Thalasemia heterozigot salah satu jalan keluar adalah inseminasi buatan dengan sperma berasal dari donor yang bebas dan Thalasemia troit. Kelahiran kasus homozigot terhindari, tetapi 50 % dari anak yang lahir adalah carrier, sedangkan 50% lainnya normal.

Diagnosis prenatal melalui pemeriksaan DNA cairan amnion merupakan suatu kemajuan dan digunakan untuk mendiagnosis kasus homozigot intra-uterin sehingga dapat dipertimbangkan tindakan abortus provokotus (Soeparman dkk, 1996).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Thalasemia

  1. A.    Pengkajian

1. Asal Keturunan / Kewarganegaraan

§  Thalasemia banyak dijumpai pada bangsa di sekitar laut Tengah (Mediteranial) seperti Turki, Yunani, dll. Di Indonesia sendiri, thalasemia cukup banyak dijumpai pada anak, bahkan merupakan penyakit darah yang paling banyak diderita.

 

2. Umur

§  Pada penderita thalasemia mayor yang gejala klinisnya jelas, gejala telah terlihat sejak anak berumur kurang dari 1 tahun, sedangkan pada thalasemia minor biasanya anak akan dibawa ke RS setelah usia 4 tahun.

 

3. Riwayat Kesehatan Anak

§  Anak cenderung mudah terkena infeksi saluran pernapasan atas atau infeksi lainnya. Ini dikarenakan rendahnya Hb yang berfungsi sebagai alat transport.

 

4. Pertumbuhan dan Perkembangan

§  Seirng didapatkan data adanya kecenderungan gangguan terhadap tumbang sejak masih bayi. Terutama untuk thalasemia mayor, pertumbuhan fisik anak, adalah kecil untuk umurnya dan adanya keterlambatan dalam kematangan seksual, seperti tidak ada pertumbuhan ramput pupis dan ketiak, kecerdasan anak juga mengalami penurunan. Namun pada jenis thalasemia minor, sering terlihat pertumbuhan dan perkembangan anak normal.

 

5. Pola Makan

§  Terjadi anoreksia sehingga anak sering susah makan, sehingga BB rendah dan tidak sesuai usia.

 

6. Pola Aktivitas

§  Anak terlihat lemah dan tidak selincah anak seusianya. Anak lebih banyak tidur/istirahat karena anak mudah lelah.

 

7. Riwayat Kesehatan Keluarga

§  Thalasemia merupakan penyakit kongenital, jadi perlu diperiksa apakah orang tua juga mempunyai gen thalasemia. Jika iya, maka anak beresiko terkena talasemia mayor.

 

8. Riwayat Ibu Saat Hamil (Ante natal Core – ANC)

§  Selama masa kehamilan, hendaknya perlu dikaji secara mendalam adanya faktor resiko talasemia. Apabila diduga ada faktor resiko, maka ibu perlu diberitahukan resiko yang mungkin sering dialami oleh anak setelah lahir.

  1. B.     Pemeriksaan Fisik

§  KU = lemah dan kurang bergairah, tidak selincah anak lain yang seusia.

§  Kepala dan bentuk muka. Anak yang belum mendapatkan pengobatan mempunyai bentuk khas, yaitu kepala membesar dan muka mongoloid (hidung pesek tanpa pangkal hidung), jarak mata lebar, tulang dahi terlihat lebar.

§  Mata dan konjungtiva pucat dan kekuningan

§  Mulut dan bibir terlihat kehitaman

§  Dada, Pada inspeksi terlihat dada kiri menonjol karena adanya pembesaran jantung dan disebabkan oleh anemia kronik.

§  Perut, Terlihat pucat, dipalpasi ada pembesaran limpa dan hati (hepatospek nomegali).

§  Pertumbuhan fisiknya lebih kecil daripada normal sesuai usia, BB di bawah normal

§  Pertumbuhan organ seks sekunder untuk anak pada usia pubertas tidak tercapai dengan baik. Misal tidak tumbuh rambut ketiak, pubis ataupun kumis bahkan mungkin anak tidak dapat mencapai tapa odolense karena adanya anemia kronik.

§  Kulit, Warna kulit pucat kekuningan, jika anak telah sering mendapat transfusi warna kulit akan menjadi kelabu seperti besi. Hal ini terjadi karena adanya penumpukan zat besi dalam jaringan kulit (hemosiderosis).

  1. C.    Diagnosa Keperawatan

1.      Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman O2 ke sel.

2.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan.

3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal.

4.      Resiko infeksi berhubungan dengan transfusi darah

5.      Kurang pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan interpretasi informasi dan tidak mengenal sumber informasi.

  1. D.    Intervensi Keperawatan
    1. Dx 1 Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman O2 ke sel.
    2. Kriteria hasil :

§  Tidak terjadi palpitasi

§  Kulit tidak pucat

§  Membran mukosa lembab

§  Keluaran urine adekuat

§  Tidak terjadi mual/muntah dan distensil abdomen

§  Tidak terjadi perubahan tekanan darah

§  Orientasi klien baik.

  1. Rencana keperawatan / intervensi :

§  Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membran mukosa, dasar kuku.

§  Tinggikan posisi kepala dari tempat tidur sesuai toleransi (kontra indikasi pada pasien dengan hipotensi).

§  Selidiki keluhan nyeri dada, palpitasi.

§  Kaji respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung.

§  Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan, dan tubuh hangat sesuai indikasi.

§  Kolaborasi pemeriksaan laboratorium, Hb, Hmt, AGD, dll. Dengan petugas laboratorium

§  Kolaborasi tim medis dalam pemberian transfusi.

§  Awasi ketat untuk terjadinya komplikasi transfusi.

  1. Dx. 2 perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna / ketidakmampuan mencerna makanan / absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal.
  2. Kriteria hasil :

§  Menunjukkan peningkatan berat badan/ BB stabil.

§  Tidak ada malnutrisi.

  1. Intervensi :

§  Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai anak.

§  Observasi dan catat masukan makanan anak.

§  Timbang BB anak tiap hari.

§  Beri makanan sedikit tapi sering.

§  Observasi dan catat kejadian mual, muntah, platus, dan gejala lain yang berhubungan.

§  Pertahankan higiene mulut yang baik.

§  Kolaborasi dengan ahli gizi.

§  Kolaborasi pemeriksaan Laboratorium Hb, Hmt, BUN, Albumin, Transferin, Protein, dll.dengan petugas laboratorium.

§  Berikan obat sesuai indikasi yaitu vitamin dan suplai mineral, pemberian Fe tidak dianjurkan.

  1. Dx. 3 intoleransi aktivitas berhubungan degnan ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan.
  2. Kriteria hasil :

§  Menunjukkan penurunan tanda fisiologis intoleransi, misalnya nadi, pernapasan dan Tb masih dalam rentang normal pasien.

  1. Intervensi :

§  Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.

§  Memonitor tanda-tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).

§  Memberikan informasi kepada psien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika terjadi gejala-gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan.

§  Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan anak.

§  Mengajarkan kepada orang tua tehnik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak dirumah.

§  Membuat jadwal aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.

§  Berikan lingkungan yang tenang.

§  Pertahankan tirah baring jika diindikasikan.

§  Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

§  Anjurkan teknik penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk.

  1. Dx. 4. resiko infeksi berhubungan transfusi darah
  2. Kriteria hasil :
  • Menunjukkan TTV normal
  • tidak ada tanda-tanda infeksi
  1. Intervensi :
  • Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi-pemberi perawatan dan pasien
  • Observasi TTV
  • Kaji semua sistem (misal : kulit, pernafasan) terhadap tanda / gejala infeksi secara kontinu
  • Kaji dengan tanda-tanda gejala reaksi pirogenik seperti : demam, mual dan muntah, sakit kepala.
  • Periksa tempat dilakukannya prosedur infasif terhadap tanda-tanda radang
  1. Dx. 5. Kurang pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi dan tidak mengenal sumber informasi.
  2. Kriteria hasil :
  • Menyatakan pemahaman proses penyakit, prosedur diagnostika rencana pengobatan.
  • Mengidentifikasi faktor penyebab.
  • Melakukan tindakan yang perlu/ perubahan pola hidup.
  1. Intervensi :
  • Berikan informasi tentang thalasemia secara spesifik.
  • Diskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya thalasemia.
  • Rujuk ke sumber komunitas, untuk mendapat dukungan secara psikologis.
  • Konseling keluarga tentang pembatasan punya anak/ deteksi dini keadaan janin melalui air ketuban dan konseling pernikahan: mengajurkan untuk tidak menikah dengan sesama penderita thalasemia, baik mayor maupun minor.
  1. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan dampak penyakit anak terhadap fungsi keluarga.
  2. Kriteria Hasil
  • Keluarga menerima kondisi anaknya
  • Keluarga dapat beadaptasi dengan penyakit yang diderita anaknya

 

  1. Intervensi
  • Berikan dukungan pada keluarga dan menjelaskan kondisi anak sesuai dengan realita yang ada.
  • Bantu orang tua untuk mengembangkan strategi untuk melakukan penyesuaian terhadap krisis akibat penyakit yang diderita anak.
  • Berikan dukungan kepada keluarga untuk mengembangkan harapan realistis terhadap anak.
  • Analisa sistem yang mendukung dan penggunaan sumber-sumber dimasyarakat (pengobatan, keuangan, sosial) untuk membantu proses penyesuain keluarga terhadap penyakit anak. (Suriadi, 2001 : 27 – 28).
  1. E.     Implementasi

1.      Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman O2 ke sel.

§  Mengawasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membran mukosa, dasar kuku.

§  Meninggikan posisi kepala dari tempat tidur sesuai toleransi (kontra indikasi pada pasien dengan hipotensi).

§  Menyelidiki keluhan nyeri dada, palpitasi.

§  Mengkaji respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung.

§  Mencatat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan, dan tubuh hangat sesuai indikasi.

§  Mengkolaborasian pemeriksaan laboratorium, Hb, Hmt, AGD, dll.dengan petugas laboratorium

§  Mengkolaborasikan dengan tim medis dalam pemberian transfusi.

§  Mengawasi ketat untuk terjadinya komplikasi transfusi.

2.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna atau ketidakmampuan mencerna makanan/absorbsi nutrien yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah normal.

§  Mengkaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai anak.

§  Mengobservasi dan catat masukan makanan anak.

§  Menimbang BB anak tiap hari.

§  Memberikan makanan sedikit tapi sering.

§  Mengobservasi dan catat kejadian mual, muntah, platus, dan gejala lain yang berhubungan.

§  Mempertahankan higiene mulut yang baik.

§  Mengkolaborasikan dengan ahli gizi.

§  Mengkolaborasikan pemeriksaan Laboratorium Hb, Hmt, BUN, Albumin, Transferin, Protein, dll.dengan petugas laboratorium.

§  Memberikan obat sesuai indikasi yaitu vitamin dan suplai mineral, pemberian Fe tidak dianjurkan.

3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai O2 dan kebutuhan.

§  Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.

§  Memonitor tanda-tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).

§  Memberikan informasi kepada psien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika terjadi gejala-gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan.

§  Memberikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari sesuai dengan kemampuan anak.

§  Mengajarkan kepada orang tua tehnik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak dirumah.

§  Membuatkan jadwal aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.

§  Memberikan lingkungan yang tenang.

§  Mempertahankan tirah baring jika diindikasikan.

§  Mengubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

§  Menganjurkan teknik penghematan energi, misalnya mandi dengan duduk.

4.      Resiko infeksi berhubungan dengan transfusi darah

§  Meningkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan pasien

§  Mempertahankan teknik-teknik aseptik ketat pada prosedur / perawatan luka

§  Mengobservasi TTV

§  Mengambil spesimen untuk kultur / sensitivitas sesuai indikasi

§  Memberikan antieptik topikal, antiobiotik sistemik

5.      Kurang pengetahuan tentang prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan interpretasi informasi dan tidak mengenal sumber informasi.

  • Memberikan informasi tentang thalasemia secara spesifik.
  • Memdiskusikan kenyataan bahwa terapi tergantung pada tipe dan beratnya thalasemia.
  • Merujuk ke sumber komunitas, untuk mendapat dukungan secara psikologis.
  • Mengkonselingkan keluarga tentang pembatasan punya anak/ deteksi dini keadaan janin melalui air ketuban dan konseling pernikahan: mengajurkan untuk tidak menikah dengan sesama penderita thalasemia, baik mayor maupun minor.
  1. Tidak efektif koping keluarga berhubungan dengan dampak penyakit anak terhadap fungsi keluarga.
  • Memberikan dukungan pada keluarga dan menjelaskan kondisi anak sesuai dengan realita yang ada.
  • Membantu orang tua untuk mengembangkan strategi untuk melakukan penyesuaian terhadap krisis akibat penyakit yang diderita anak.
  • Memberikan dukungan kepada keluarga untuk mengembangkan harapan realistis terhadap anak.
  • Menganalisa sistem yang mendukung dan penggunaan sumber-sumber dimasyarakat (pengobatan, keuangan, sosial) untuk membantu proses penyesuain keluarga terhadap penyakit anak. (Suriadi, 2001 : 27 – 28).
  1. F.     Evaluasi

§  Tidak adanya gangguan perfusi jaringan.

§   Nutrisi terpenuhi.

§  Tidak adanya gangguan intoleransi aktivitas

§  Berkurangnya resiko tinggi infeksi.

§  Bertambahnya pengetahuan keluarga tentang talasemia

§  koping keluarga efektif

 

BAB IV
PENUTU
P


4.1 Kesimpulan

Thalasemia merupakan penyakit anemia hemolitik herediter yang diturunkan secara resesif. Ditandai oleh defisiensi produksi globin pada hemoglobin. dimana terjadi kerusakan sel darah merah di dalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek (kurang dari 100 hari). Kerusakan tersebut karena hemoglobin yang tidak normal (hemoglobinopatia). Penyakit ini di sebabkan oleh faktor genetik dan pembagiannya, dibagi sesuai dengan molekkularnya. Tetapi secara umum thalasemia dibagi menjadi 3 yaitu thalasemia ini yaitu mengalami anemia tiap dari ke 3 jenis thalasemia tersebut, gejalanya sesuai dengan tingkt keparahan penatalaksanaan dari thalasemia ini dengan cara tranfusi darah (kebanyakan). Tetapi yang lebih penting harus di lakukan penyuluhan sebelum perkawinan untuk mencegah perkawinan diantara pasien thalasemia agar tidak mendapatkan keturunan yang homozogot.

1.2  Saran

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Abdoerrachman M. H, dkk (1998), Buku Kuliah I Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI,Jakarta.
  2. Doenges, Marilynn E, (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, EGC, Jakarta.
  3. Ngastiyah, (1997), Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
  4. Suriadi, Rita Yuliani, (2001), Asuhan Keperawatan Pada Anak, edisi I, CV. Sagung Solo, Jakarta.
  5. Guyton, Arthur C, (2000), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, edisi 9, EGC, Jakarta.
  6. Soeparman, Sarwono, W, (1996), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, FKUI, Jakarta.
  7. Hoffbrand. A.V & Petit, J.E, (1996), Kapita Selekta Haematologi, edisi ke 2, EGC, Jakarta.
  8. Depkes, (1999), Indonesia Sehat 2010, Visi Baru, Misi, Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kesehatan, Jakarta.
  9. Sacharin. M, (1996), Prinsip Keperawatan Pediatrik, edisi 2, EGC, Jakarta.

.

 

 

 

By muecliisonagirl

VAKUM EKSTRAKSI


EKSTRAKSI VAKUM

Ekstraksi vakum adalah persalinan buatan yang dilakukan dengan cara membuat tekanan negative pada kepala janin sehingga terbentuk kaput buatan dan janin dapat dilahirkan pervaginam

Alat Vakum terdiri dari:
1.Mangkuk vakum
2.Rantai vakum
3.Pemegang vakum
4.Selang penghubung mangkuk vakum ke botol vakum
5.Botol vakum
6.Pompa vakum


Indikasi untuk melakukan ekstraksi vakum:
Indikasi Ibu: Pada ibu dengan penyakit paru, jantung
Indikasi Anak: Gawat janin (masih kontroversi)
Indikasi waktu: kala II lama / persalinan lama

Kontra indikasi dalam melakukan ekstraksi vakum:
Faktor ibu:
– Pada ibu yang tidak dapat mengedan sama sekali
– Rupture uteri imminens
– Panggul sempit / DKP

Faktor Janin: 
– Janin preterm
– Presentasi muka
– Malposisi

Faktor Penolong:
– Tidak berpengalaman / keahlian kurang
– Tidak mengetahui pasti dimana posisi kepala janin
– Indikasi yang tidak jelas

Syarat dalam melakukan ekstraksi vakum:
1. Presentasi belakang kepala
2. Penurunan kepala  HIII+
3. Ketuban (-)
4. Tidak ada DKP / panggul sempit
5. Pembukaan lengkap
6. Harus ada tenaga mengedan dari ibu

Prosedur dalam melakukan ekstraksi vakum:

1. Ibu tidur dalam posisi litotomi

2. Persiapan alat vakum

3. Setelah persiapan vakum selesai, dipilih mangkuk yang sesuai dengan pembukaan serviks, pada pembukaan lengkap, biasanya ukuran mangkuk yang dipilih adalah mangkuk nomor 5

4. Mangkuk dimasukkan ke dalam vagina dalam posisi miring, kemudian dipasang di bagian terendah kepala, menjauhi ubun-ubun besar

5. Setelah mangkuk terpasang, dilakukan pemeriksaan ulang, apakah ada jalan lahir/ jaringan yang terjepit.

6. Setelah itu pompa vakum dinyalakan, dimulai dengan tekanan -0,2kg/cm2 selama 2 menit, kemudian dinaikkan lagi menjadi -0,4kg/cm2 selama 2 menit, kemudian dinaikkan lagi menjadi -0,6kg/cm2.

7. Setelah itu, dilakukan traksi percobaan, dilihat apakah saat dilakukan traksi , kepala janin ikut turun. Jika tidak, pemasangan mangkuk diulangi lagi.

8. Bersamaan dengan timbulnya his, ibu disuruh mengejan, dan mangkuk ditarik searah dengan sumbu panggul. Pada waktu melakukan tarikan , harus ada koordinasi yang baik antara tangan kiri dan kanan penolong

9. Ibu jari dan telunjuk tangan kiri penolong menahan mangkuk,agar mangkuk selalu dalam posisi yang benar, sehingga tidak terlepas. sedangkan tangan kanan melakukan tarikan dengan memegang pada pemegang.

10. Traksi dilakukan selama ada his, dan harus mengikuti putaran paksi dalam , sampai occiput terlihat sebagai hipomoklion, traksi dilakukan curam ke arah atas, dan tangan kiri menahan perineum saat kepala meregang perineum, hinggal lahirlah dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu janin.

11. Setelah kepala lahir, tekanan dihentikan , dan mangkuk dilepaskan, janin dilahirkan seperti persalinan normal biasa.

Ekstraksi vakum dikatakan gagal apabila:
1. Waktu dilakukan traksi, mangkuk terlepas sebanyak 3 kali,
2. Dalam waktu setengah jam dilakukan ekstraksi , janin tidak lahir juga, pilihannya adalah :
a. Dicoba dengan ekstraksi forceps, asal syarat lainnya juga memenuhi
b. Dilakukan section cesarean

Komplikasi ekstraksi vakum:
Pada Ibu Pada Janin
Perdarahan
Trauma jalan lahir
infeksi Eskoriasi kulit kepala
Sefalhematoma
Subgaleal hematom
Neksrosi kulit kepala

Keunggulan komplikasi ekstraksi vakum dibandingkan ekstraksi forceps:
1. Pemasangan lebih mudah
2. Komplikasi untuk laserasi jalan lahir lebih sedikit dibandingkan forceps
3. Trauma kepala janin dapat lebih ringan

Kerugian ekstraksi vakum:
1. Memerlukan waktu yang lebih lama , karena menunggu untuk menaikkan tekanan dulu dalam membuat keadaan vakum
2. Tenaga traksi tidak sekuat seperti tenaga cunam

 

By muecliisonagirl

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN TBC


ASUHAN KEPERAWATAN

PADA IBU HAMIL DENGAN TBC  

BAB 1

 PENDAHULUAN

     A.LATAR BELAKANG

Ada berbagai macam gangguan paru-paru pada ibu hamil,tuberculosis salah satunya.Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah yang sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon.

Penularan tuberculosis terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah penderita terdapat basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman yang terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.

Penyakit ini perlu diperhatikan dalam kehamilan, karena penyakit ini masih merupakan penyakit rakyat; sehingga sering kita jumpai dalam kehamilan. TBC paru ini dapat menimbulkan masalah pada wanita itu sendiri, bayinya dan masyarakat sekitarnya.

Kehamilan tidak banyak memberikan pengaruh terhadap cepatnya perjalanan penyakit ini, banyak penderita tidak mengeluh sama sekali. Keluhan yang sering ditemukan adalah batuk-batuk yang lama, badan terasa lemah, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, kadang-kadang ada batuk darah, dan sakit sekitar dada.

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

 

 

 

 

1.1     Rumusan Masalah

  1. Apa definisi tuberculosis paru
  2. Apa yang menjadi etiologi tuberculosis paru
  3. Bagaimana patofisiologinya?
  4. Bagaimana manifestasi klinis dari tuberculosis paru
  5. Sebutkan dan jelaskan pemeriksaan penunjang TBC paru
  6. Penatalaksanaan TBC paru

1.2     Tujuan

1.3.1     Tujuan Umum

Mampu menjelaskan tentang Tuberculosis paru berikut asuhan keperawatannya.

1.3.2     Tujuan Khusus

  1. Mampu menjelaskan definisi Tuberculosis paru ?
  2. Mampu menjelaskan apa yang menjadi etiologi Tuberculosis paru
  3. Mampu menjelaskan bagaimana patofisiologinya?
  4. Mampu menjelaskan manifestasi klinis dari tuberculosis paru
  5. Mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang Tuberculosis paru
  6. Mampu menjelaskan penatalaksanaan Tuberculosis paru
  7. Mampu melakukan asuhan keperawatan yang berhubungan dengan Tuberculosis paru

 

1.3     Manfaat

Manfaat yang ingin diperoleh dalam penyusunan makalah ini adalah:

  • Mendapatkan pengetahuan tentang definisi karsinoma ovarii
  • Mendapatkan pengetahuan tentang proses keperawatan pada klien dengan karsinoma ovarii

BAB 2

PEMBAHASAN

 

2.1       Pengertian

          Definisi

Tuberkolusis adalah penyakit menular yang menyereng paru.

(Dep.Les. RI, 2001 : 7)

Tuberkolusis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.

(Kapita Selakta, 2001 : 472)

Tubercolosis adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui udara pernafasan yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tubercolosis.

(Infeksi Saluran Nafas, 1989 : 37)

 Etiologi

Penyebab penyakit dari TBC adalah mycrobacterium tuberculosis dan mycobacterium bavis.

           Manifestasi Klinis

1.    Demam

2.    Batuk darah

3.    Sesak nafas

4.    Nyeri dada

5.    Malaise

 Patofisiologi

Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya.

Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru.

Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan. Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit, proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan Kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus.

Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif.

Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24 jam. Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas.

 

 

 

 

 

   Komplikasi

1.    Radang Pleura

2.    Efusi Pleura

3.    Bronkopneumonia

4.    Menurunnya imunitas tubuh

             Pemeriksaan Penunjang

1.     Pemeriksaan Radiologi

Tuberkulosis paru mempunyai gambaran patologis, manifestasi dini berupa suatu koplek kelenjar getah bening parenkim dan lesi resi TB biasanya terdapat di apeks dan segmen posterior lobus atas paru-paru atau pada segmen superior lobus bawah (Soeparman. 1998).

2.    Pemeriksaan laboratorium

a.    Darah

Adanya kurang darah, ada sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif (Alsogaff, 1995).

b.    Sputum

Ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru yang biasanya diambil pada pagi hari (Soeparman dkk, 1998. Barbara. T. Long, 1996)

c.    Test Tuberkulosis

Test tuberkulosis memberikan bukti apakah orang yang dites telah mengalami infeksi atau belum. Tes menggunakan dua jenis bahan yang diberikan yaitu : Old tuberkulosis (OT) dan Purifled Protein Derivative (PPD) yang diberikan dengan sebuah jarum pendek (1/2 inci) no 24 – 26, dengan cara mecubit daerah lengan atas dalam 0,1 yang mempunyai kekuatan dosis 0,0001 mg/dosis atau 5 tuberkulosis unit (5 TU). Reaksi dianggap bermakna jika diameter 10 mm atau lebih reaksi antara 5 – 9 mm dianggap meragukan dan harus di ulang lagi. Hasil akan diketahui selama 48 – 72 jam tuberkulosis disuntikkan (Soeparman, 1998. Barbara. T. Long, 1996).

           Penatalaksanaan Keperawatan

1.    Berikan penjelasan dan pendidikan kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur.

2.    Anjarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bula batuk, bersin, dan tertawa.

3.    Ibu hamil dengan proses aktif hendanya jangan dicampurkan dengan wanita hamil.

4.    Untuk diagniosis pasti dan pengobatan selalu bekerjasama dengan ahli paru.

5.    Pendertia dengan proses aktif apalagi dengan batuk darah sebaiknya di rawat di RS, dalam kamar isolasi. Gunanya untuk mencegah penularan untuk menjamin makanan dan istirahat yang cukup, pengobatan intensif dan teratur.

Medis

1.    Iconiazid adalah obat terpilih karena paling aman untuk kehamilan.

2.    Setelah 1-2 bulan pengobatan, lakukan pemeriksaan sputum ulang.

3.    Bayi harus mendapat propilaktasis INH dan imunisasi BCG.

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN

         A.   Pengkajian

Pengkajian adalah komponen kunci dan pondasi proses keperawatan, pengkajian terbagi dalam tiga tahap yaitu, pengumpulan data, analisa data dan diagnosa keperawatan (Lismidar, 1990).

1)    Pengumpulan data

Dalam pengumpulan data ada urutan-urutan kegiatan yang dilakukan yaitu :

a.    Identitas klien

Nama, umur, kuman TBC menyerang semua umur, jenis kelamin, tempat tinggal (alamat), pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan satitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain (Hendrawan Nodesul, 1996)

b.    Riwayat penyakit sekarang

Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di rasakan saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk mencari pengobatan.

c.    Riwayat penyakit dahulu

Keadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta tuberkulosis paru yang kembali aktif.

·         Riwayat penyakit keluarga

Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya.

·         Riwayat psikososial

Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain (Hendrawan Nodesul, 1996).

·         Pola fungsi kesehatan

1)    Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak-desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah yang sumpek (Hendrawan Nodesul, 1996)

2)    Pola nutrisi dan metabolik

Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu makan menurun (Marilyn. E. Doenges, 1999).

3)    Pola eliminasi

Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun defekasi

4)    Pola aktivitas dan latihan

Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan menganggu aktivitas (Marilyn. E. Doegoes, 1999).

5)    Pola tidur dan istirahat

Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat (Marilyn. E. Doenges, 1999).

6)    Pola hubungan dan peran

Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit menular (Marilyn. E. Doenges, 1999).

7)    Pola sensori dan kognitif

Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan pendengaran) tidak ada gangguan.

8)    Pola persepsi dan konsep diri

Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya (Marilyn. E. Doenges, 1999).

9)    Pola reproduksi dan seksual

Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah karena kelemahan dan nyeri dada.

10) Pola penanggulangan stress

Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan (Hendrawan Nodesul, 1996).

11) Pola tata nilai dan kepercayaan

Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya aktifitas ibadah klien.

2)    Pemeriksaan fisik

Berdasarkan sistem-sistem tubuh :

a.    Sistem integumen

Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun.

b.    Sistem pernapasan

Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai :

    • Inspeksi : Adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah (Purnawan Junadi dkk, 1982).
    • Palpasi : Fremitus suara meningkat (Alsogaff, 1995).
    • Perkusi: Suara ketok redup. (Soeparman, 1998).
    • Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring (Purnawan. J. dkk, 1982. Soeparman, 1998).

c.    Sistem pengindraan

Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan.

d.    Sistem kordiovaskuler

Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 yang mengeras (Soeparman, 1998).

e.    Sistem gastrointestinal

Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun (Soeparman, 1998).

f.     Sistem muskuloskeletal

Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan sehari-hari yang kurang meyenangkan (Alsogaff, 1995)

g.    Sistem neurologis

Kesadaran penderita yaitu komposmentis dengan GCS : 456

h.    Sistem genetalia

Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia

        B.    Fokus Intervensi

Setelah mengumpulkan data, mengelompokan dan menentukan diagnosa keperawatan, maka tahap selanjutnya adalah menyusun perencaan. Dalam tahap perencanaan ini dengan melihat diagnosa keperawatan diatas dapat disusun rencana keperawatan sebagai berikut :

Diagnosa keperawatan

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan secret kental atau secret darah.

·         Tujuan : jalan nafas efektif

·         Kriteria hasil :

–     Klien dapat mengeluarkan sekret tanpa bantuan

–    Klien dapat mempertahankan jalan nafas

–    Pernafasan klien normal (16 – 20 kali per menit)

Rencana tindakan :

a)    Kaji fungsi pernafasan seperti, bunyi nafas, kecepatan, irama, dan kedalaman penggunaan otot aksesori

Penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelektasis, ronki, mengi menunjukkan akumulasi sekret atau ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernafasan dan peningkatan kerja penafasan

b)    Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif

Pengeluaran sulit jika sekret sangat tebal sputum berdarah kental diakbatkan oleh kerusakan paru atau luka brongkial dan dapat memerlukan evaluasi lanjut

c)    Berikan klien posisi semi atau fowler tinggi, bantu klien untuk batuk dan latihan untuk nafas dalam

Posisi membatu memaksimalkan ekspansi paru dan men urunkan upaya pernapasan. Ventilasi maksimal meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan napas bebas untuk dilakukan

d)    Bersihkan sekret dari mulut dan trakea

Mencegah obstruksi/aspirasi penghisapan dapat diperlukan bila klien tak mampu mengeluaran sekret

e)    Pertahanan masukan cairan seditnya 2500 ml / hari, kecuali ada kontraindikasi

Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengecerkan sekret membuatnya mudah dilakukan

f)    Lembabkan udara respirasi

Mencegah pengeringan mambran mukosa, membantu pengenceran sekret

g)    Berikan obat-obatan sesuai indikasi : agen mukolitik, bronkodilator , dan kortikosteroid

Menurunkan kekentalan dan perlengketan paru, meningkatkan ukuran kemen percabangan trakeobronkial berguna padu adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia

Diagnosa keperawatan kedua

2.gangguan pertukaran gas berhubungan dengan kerusakan membrane alveolar-kalpiler secret kental.

·         Tujuan : Pertukaran gas berlangsung normal

·         Kreteria hasil :

– Melaporkan tak adanya / penurunan dispnea

– Klien menunjukan tidak ada gejala distres pernapasan

-Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal

Rencana tindakan dan rasional

a)    Kaji dispnea, takipnea, menurunya bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan terbatasnya ekspansi dinding dada

TB paru menyebabkan efek luas dari bagian kecil bronko pneumonia sampai inflamasidifus luas. Efek pernapasan dapat dari ringan sampai dispnea berat sampai distress pernapasan

b)    Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sionosis perubahan warna kulit, termasuk membran mukosa

Akumulasi sekret, pengaruh jalan napas dapat menganggu oksigenasi organ vital dan jarigan

c)    Tujukkan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi

Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps membantu menyebabkan udara melalui paru dan menghilangkan atau menurtunkan napas pendek

d)    Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan

Menurunkan konsumsi oksigen selama periode menurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala

e)    Awasi segi GDA / nadi oksimetri

Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan atau saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukan kebutuhan untuk intervensi / perubahan program terapi

f)    Berikan oksigen tambahan yang sesuai

Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi atau menurunya permukaan alveolar paru

Diagnosa keperawatan ketiga

3. hipetermi berhubungan dengan proses inflamasi.

·         Tujuan : Suhu tubuh normal (36 °C – 37°C)

·         Kriteria hasil :

– Klien mengatakan badannya sudah tidak panas

-Suhu tubuh pasien 36°C

– Rencana tindakan dan rasional

a)    Observasi TTV

b)    Anjurkan klien untuk minum  sedikit tapi sering

c)    Libatkan keluarga untuk menyediakan minuman kesukaan pasien

d)    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik : paracetamol

Diagnosa keperawatan keempat

4. pola napas tidak efektif berhubungan dengan sekresi mukopurulen dan kurangnya upaya batuk.

·         Tujuan : Pola nafas efektif

·         Kriteria hasil :

–  Klien mempertahankan pola pernafasan yang efektif

– Frekwensi irama dan kedalaman pernafasan normal (RR 16-20 kali/menit)

·         Dispneu berkurang

·         Rencana tindakan dan rasional

a)    Kaji kualitas dan kedalaman pernapasan, penggunaan otot aksesori pernapasan : catat setiap perubahan

b)    Mengetahui penurunan bunyi napas karena adanya secret

Kaji kualitas sputum : warna, bau, knsistensi

Mengetahui perubahan yang terjadi untuk memudahkan pengobatan selanjutnya

c)    Auskultasi bunyi napas setiap 4 jam

Mengetahui sendiri mungkin perubahan pada bunyi napas

d)    Baringan klien untuk mengoptimalkan pernapasan : posisi semi fowler tinggi

Membantu mengembangkan secara maksimal

e)    Bantu dan ajarkan klien berbalik posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam sampai 4 jam

Batuk dan napas dalam yang tetap dapat mendorong sekret keluar

f)    Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat-obatan

Mencegah kekeringan mukosa membran, mengurangi kekentalan sekret dan memperbesar ukuran lumen trakeobroncial

Diagnosa keperawatan kelima

5. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang sehubungan dengan anoreksia, keletihan atau dispnea.

·         Tujuan : terjadi peningkatan nafsu makan, berat badan yang stabil dan bebas tanda malnutrisi

·         Kriteria hasil

–  Klien dapat mempertahankan status malnutrisi yang adekuat

–  Berat badan stabil dalam batas yang normal

Rencana tindakan dan rasional

a)    Mencatat status nutrisi klien, turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral, riwayat mual/muntah atau diare

Berguna dalam mendefenisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan indervensi yang tepat

b)    Pastikan pola diet biasa klien yang disukai atau tidak

Membantu dalam mengidentifukasi kebutuhan/ kekuatan khusus. Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masakan diet

c)    Mengkaji masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik

Berguna dalam mengukur keepektifan nutrisi dan dukungan cairan

d)    Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan

Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputun atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah

e)    Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat

Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/ legaster

f)    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetukan komposisi diet

Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet

Diagnosa keperawatan keenam

6. Resiko infeksi yang sehubungan dengan penurunan/ penekanan proses inflamasi.

·         Tujuan : klien mengalami penurunan potensi untuk menularkan penyakit seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien untuk mengubah tes kulit positif.

·         Kriteria hasil : klien mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien.

Rencana tindakan dan rasional

a)    Identifikasi orang lain yang berisiko. Contoh anggota rumah, sahabat

Orang yang terpajan ini perlu program terapi obat intuk mencegah penyebaran infeksi

b)    Anjurkan klien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan hindari meludah serta tehnik mencuci tangan yang tepat

Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi

c)    Kaji tindakan. Kontrol infeksi sementara, contoh masker atau isolasi pernafasan

Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi klien dengan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular

d)    Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengatifan berulang tuberkulasis

Pengetahuan tentang faktor ini membantu klien untuk mengubah pola hidup dan menghindari insiden eksaserbasi

e)    Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat

Periode singkat berakhir 2 sampai 3 hari setelah kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas, sedang resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan

f)    Kolaborasi dan melaporkan ke tim dokter dan Depertemen Kesehatan lokal

Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran infeksi

PENUTUP

          A.   Kesimpulan

Tingginya angka penderita TBC di Indonesia dikarenakan banyak faktor, salah satunya adalah iklim dan lingkungan yang lembab serta tidak semua penderita mengerti benar tentang perjalanan penyakitnya yang akan mengakibatkan kesalahan dalam perawatan dirinya serta kurangnya informasi tentang proses penyakitnya dan pelaksanaan perawatan dirumah kuman ini menyerang pada tubuh manusia yang lemah dan para pekerja di lingkungan yang udaranya sudah tercemar asap, debu, atau gas buangan.

Karena prevalensi TBC paru di Indonesia masih tinggi, dapat diambil asumsi bahwa frekuensinya pada wanita akan tinggi. Diperkirakan 1% wanita hamil menderita TB paru. Menurut Prawirohardjo dan Soemarno (1954), frekuensi wanita hamil yang menderita TB paru di Indonesia yaitu 1,6%. Dengan bertambahnya jumlah penduduk tiap tahunnya, dapat diperkirakan penyakit ini juga mengalami peningkatan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya.

         B.   Penanganan

  1.  Dalam kehamilan :

a.    Ibu hamil dengan proses aktif, hendaknya jangan dicampurkan dengan wanita hamil lainnya pada pemeriksaan antenatal.

b.    Untuk diagnosis pasti dan pengobatan selalu bekerjasama dengan ahli paru-paru.

c.    Penderita dengan proses aktif, apalagi dengan batuk darah, sebaiknya di rawat di rumah sakit; dalam kamar isolasi. Gunanya untuk mencegah penularan, untuk menjamin istirahat dan makan yang cukup, serta pengobatan yang intensif dan teratur.

d.    Obat-obatan : INH, PAS, rifadin, dan streptomisin.

e.    TBC paru tidak merupakan indikasi untuk abortus buatan dan terminasi kehamilan.

  1.  Dalam persalinan :

a.    Bila proses tenang, persalinan akan berjalan seperti biasa dan tidak perlu tindakan apa-apa.

b.    Bila proses aktif, kala I dan II diusahakan seringan mungkin. Pada kala I, ibu hamil di beri obat-obatan penenang dan analgetika dosis rendah. Kala II diperpendek dengan ekstraksi vakum/forseps.

c.    Bila ada indikasi obstetrik untuk seksio caesaria, hal ini dilakukan bekerjasama dengan ahli anestesi untuk memperoleh anestesi mana yang terbaik.

  1.  Dalam masa nifas :

a.    Usahakan jangan terjadi perdarahan yang banyak; diberi uterus tonika dan koagulansia.

b.    Usahakan mencegah terjadinya infeksi tambahan dengan memberikan antibiotika yang cukup.

c.    Bila ada anemia sebaiknya diberikan transfusi darah, agar daya tahan ibu lebih kuat terhadap infeksi sekunder.

d.    Ibu dianjurkan supaya segera memakai kontrasepsi atau bila jumlah anak sudah cukup, segera dilakukan tubektomi.

  1.  Perawatan bayi

Biasanya bayi akan ditulari ibunya setelah kelahiran, dan TBC bawaan (konenital) sangat jarang.

a.    Bila ibu dalam proses TBC aktif

1)    Secepatnya, bayi diberikan BCG.

2)    Bayi segera dipisahkan dari ibunya selama 6-8 minggu.

3)    Bila uji Mantoux sudah positif pada bayi, barulah bayi dapat ditemukan lagi dengan ibunya.

b.    Menyusukan bayi, pada proses aktif, dilarang karena kontak langsung dari mulut ibu dan bayi.

c.    Dapat diberikan anti TBC profilaksis pada bayi yaitu INH 25 mg/kg berat badan/hari.

·         TBC paru dan alat reproduksi :

1)    TBC paru dapat bersamaan dengan TBC alat genitalia. Wiknjosastro (1995) menemukan pada 15 wanita penderita TBC-genitalis; 40% sarang primernya terdapat di paru-paru.

2)    TBC-genitalis dapat menyebabkan :

a)    Infertilitas (kemandulan)

b)    Bila terjadi kehamilan, hasil konsepsi sering berakhir dengan abortus, Kehamilan Ektopik Terganggu (KET), dan partus prematurus.

c)    TBC-genitalis yang sudah tenang dan pulih, dapat kambuh lagi setelah abortus dan persalinan.

DAFTAR PUSTAKA

file:///J:/zila/asuhan-keperawatan-pada-ibu-hamil%20tb%20pru.html

file:///J:/zila/asuhan-keperawatan-pada-ibu-hamil.html

file:///J:/zila/tbc%20pada%20ibu%20hamil%20%C2%AB%20khanzima.htm

By muecliisonagirl

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS


ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN HIPEREMESIS

Hiperemesis

  1. Definisi

Hiperemesis gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum menjadi buruk. Mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I. kurang lebih 6 minggu setelah haid terakhir selama 10 minggu. Sekitar 60%-80% primigravida dan 40%-60% multigravida mengalami mual dan muntah. Namun gejala ini menjadi lebih berat hanya pada 1 dari 1000 kehamilan.

Perasaan mual akibat kadar estrogen meningkat. Mual dan muntah terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi, hiponatremia, penurunan klorida urin, selanjutnya tejadi hemokonsentrasi yang mengurangi perfusi darah ke jaringan dan menyebabkan tertimbunnya toksik. Pemakaian cadangan karbohidtrat dan lemak menyebabkan oksidasi lemak tidak sempurna hingga terjadi ketosis. Hipokalemia akibat muntah dan elserasi yang berlebihan selanjutnya menambah frekuensi muntah dan merusak hepar. Selaput lendir esofagus dan lambung dapat robek (sindrom Mallory-Weiss) sehingga terjadi perdarahan gestasional.

 

  1. Etiologi

Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahan-perubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi.

Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :

  1. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
  2. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik.
  3. Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
  4. Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien

 

  1. Patofisiologis

Hiperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik.

Hiperemesis gravidarum dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton – asetik, asam hidroksi butirik dan aseton dalam darah.

Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan karena muntah menyebabkan dehidrasi sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah dan khlorida air kemih turun. Selain itu juga dapat menyebabkan hemokonsentrasi sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya ekskresi lewatginjal menambah frekuensi muntah – muntah lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit dipatahkan.

Selain dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (Sindroma Mallory-Weiss) dengan akibat perdarahan gastro intestinal.

 

  1. Manifestasi Klinis

Menurut berat ringannya gejala, hiperemesis gravidarum dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu :

–          Tingkat I, Muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum, menimbulkan rasa lemah, nafsu makan tidak ada, BB menurun, dan nyeri epigastrum. Frekuensi nadi pasien naik sekitar 100X/mnt, TD sistollik turun, turgor kulit berkurang, lidah kering, dan mata cekung.

–          Tingkat II, Pasien tampak lemah dan apatis, lidah kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang naik, dan mata sedikit ikterik. BB pasien turun, timbul hipotensi, hemokonsentrasi, oliguria, konstipasi, dan nafas berbau aseton.

–          Tingkat III, Kesadaran pasien menurun dari somnolen sampai koma, muntah berhenti, nadi kecil dan cepat, suhu meningkat, dan TD makin turun.

 

  1. Diagnosis

Dari anamnesis, didapatkan amenorhe, tanda kehamilan muda, dan muntah terus menerus. Pada pemeriksan fisik didapatkan keadaan pasien lemah apatis sampai koma, nadi meningkat sampai 100x/mnt, suhu meningkat, TD turun, atau ada tanda dehidrasi lain. Pada pemeriksaan elektrolit darah ditemukan kadar natrium dan klorida turun. Pada pemeriksaan urin kadar klorida dan dapat ditemukan keton.

Diagnosa banding yang dapat digunakan adalah Muntah karena gastritis, ulkus peptikum, hepatitis, kolesistitis, pielonefritis.

 

  1. Pencegahan

Prinsip pencegahan adalah mengobati emesis agar tidak terjadi hiperemesis.
Penerangan bahwa kehamilan dan persalinan merupakan fisiologis.

–          Makan sedikit-sedikit, tetapi sering.

–          Berikan makanan selingan seperti biskuit, roti kering dengan teh hangat saat bangun pagi dan sebelum tidur.

–          Hindari makanan berminyak dan berbau. Makanan sebaiknya dalam keadaan panas atau hangat.

–          Defekasi teratur

 

  1. Penatalaksanaan
    1. Obat-obatan

Sedativa yang siring diberikan adalah phenobarbital, vitamin yang dianjurkanadalah vitamin B1 dan B6. Anti histamika juga dianjurkan seperti dramamin, ovamin, pada keadaan lebih kuat diberikan antimetik seperti disiklominhidrokhloride atau khlorpromasin.

  1. Isolasi

Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara baik. Cacat cairan yang keluar dan masuk. Hanya dokter dan perawat yang bolehmasuk ke dalam kamar penderita. Sampai muntah berhenti dan penderita maumakan, tidak diberikan makan/minum selama 24 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejala-gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan.

 

 

  1. Terapi Psikologik

Diyakinkan kepada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan, hilangkanrasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan serta menghilangkan masalahdan konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.

 

  1. Cairan Parental

Berikan cairan parental yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukose 5% dalam cairan garam fisiologik sebanyak 2-3 liter sehari. Bila perludapat ditambah kalium dan vitamin, khususnya vitamin B kompleks dan vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino secaraintravena

 

  1. Penghentiann kehamilan

Bila keadaan memburuk dilakukan pemeriksaan medik dan psikiatrik, manifestasikomplikasi organis adalah delirium, kebutuhan, takikardi, ikterus, anuria dan perdarahan dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhirikehamilan keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung diantaranya

  1. Gangguan kejiwaan

–          Delirium.

–          Apatis, somnolen sampai koma.

–          Terjadi gangguan jiwa ensephalopati wernicle.

  1. Gangguan penglihatan

–          Perdarahan retina.

–          Kemunduran penglihatan.

  1. Gangguan faal

–          Hati : dalam bentuk ikterus

–          Ginjal : dalam bentuk anuria

–          Jantung dan pembuluh darah : nadi meningkat

–          Tekanan darah menurun.

 

 

  1. Diit Hiperemesis Gravidarum
    1. Tujuan

Diet pada hiperemesis gravidarum bertujuan untuk mengganti persediaanglikogen tubuh dan mengontrol asidosis secara berangsur memberikan makanan berenergi dan zat gizi yang cukup.

 

 

 

  1. Syarat

Diet hiperemesis gravidarum memiliki beberapa syarat, diantaranya adalah:

  1. Karbohidrat tinggi
  2. Lemak rendah
  3. Protein sedang
  4. Makanan diberikan dalam bentuk kering; pemberian cairan disesuaikandengan keadaan pasien, yaitu 7-10 gelas per hari
  5. Makanan mudah cerna, tidak merangsang saluran pencernaan, dan diberikan sering dalam porsi kecil
  6. Bila makan pagi dan siang sulit diterima, pemberian dioptimalkan pada makanmalam dan selingan malam
  7. Makanan secara berangsur ditingkatkan dalam porsi dan nilai gizi sesuaidengan keadaan dan kebutuhan gizi pasien

 

  1. Macam – macam diet

Ada 3 macam diet pada hiperemesis gravidarum, yaitu :

  1. Diet Hiperemesis I

Diet hiperemesis I diberikan kepada pasien dengan hiperemesis gravidarum berat. Makanan hanya terdiri dari roti kering, singkong bakar atau rebus, ubi bakar atau rebus, dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanantetapi 1-2 jam sesudahnya. Karena pada diet ini zat gizi yang terkandung didalamnya kurang, maka tidak diberikan dalam waktu lama.

 

  1. Diet Hiperemesis II

Berangsur dan dimulai dengan memberikan bahan makanan yang bernilaigizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersamaan dengan makanan. Pemilihan bahan makanan yang tepat pada tahap ini dapat memenuhi kebutuhan gizi kecuali kebutuhan energi.

 

 

 

  1. Diet Hiperemesis III

Diet hiperemesis III diberikan kepada pasien hiperemesis gravidarum ringan. Diet diberikan sesuai kesanggupan pasien, dan minuman boleh diberikan bersamamakanan. Makanan pada diet ini mencukupi kebutuhan energi dan semua zat gizi.

 

  1. Makanan yang dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, dan III adalah :
    1. Roti panggang, biskuit, crackers
    2. Buah segar dan sari buah
    3. Minuman botol ringan, sirop, kaldu tak berlemak, teh dan kopi encer

 

  1. Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet hiperemesis I, II, III adalah makanan yang umumnya merangsang saluran pencernaan dan berbumbu tajam. Bahan makanan yang mengandung alkohol, kopi, dan yang mengadung zat tambahan (pengawet, pewarna, dan bahan penyedap) juga tidak  dianjurkan.

 

  1. Karakteristik ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum
    1. Gravid

Faktor presdisposisi yang sering ditemukan sebagai penyebab hiperemesis gravidarum adalah pada primigravida (Prawihardjo, 2005).

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kejadian hiperemesis gravidarum lebih sering dialami oleh primigravida daripada multigravida, hal ini berhubungan dengan tingkat kestresan dan usia si ibu saat mengalami kehamilan pertama (Nining, 2009).

Hiperemesis gravidarum terjadi 60-80% pada primigravida dan 40-60% padamultigravida (Arief.B, 2009).

 

  1. Pendidikan

Kejadian hiperemesis pada ibu hamil lebih sering terjadi pada ibu hamil yang berpendidikan rendah (Prawihardjo, 2005).

Secara teoritis, ibu hamil yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih memperhatikan kesehatan diri dan keluarganya (Saifuddin, 2002).

 

  1. Riwayat kehamilan

Faktor presdisposisi yang sering dikemukakan adalah pada mola hidatiodosadan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilanganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena padakedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan (Prawihardjo, 2005).

 

  1. Riwayat Penyakit Ibu

Ibu Penyebab hiperemesis gravidarum lainnya adalah faktor endokrin seperti hipertiroid, diabetes dan lain-lain (Prawihardjo, 2005).

Hipertiroid pada kehamilan (morbus basodowi) adalah hiperfungsi kelenjar tiroid ditandai dengan naiknya metabolism basal 15-20 %, kadang kala diserta pembesaran ringan kelenjar tiroid. Penderita hipertiroid biasanya mengalamigangguan haid ataupun kemandulan. Kadang juga terjadi kehamilan atau timbul penyakit baru, timbul dalam masa kehamilan seperti hiperemesis gravidarum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
    1. Identitas pasien

Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insiden lebih tiga kali lipat. Pada wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun dapat terjadi hipertensi laten.

Meskipun proporsi kehamilan dengan hipertensi kehamilan di Amerika Serikat pada dasawarsa yang lalu meningkat hampir sepertiga. Peningkatan ini sebagian diakibatkan oleh peningkatan jumlah ibu yang lebih tua dan kelahiran kembar. Sebagai contoh, pada tahun 1998 tingkat kelahiran di kalangan wanita usia 30-44 dan jumlah kelahiran untuk wanita usia 45 dan lebih tua berada pada tingkat tertinggi dalam 3 dekade, menurut National Center for Health Statistics. Lebih jauh lagi, antara 1980 dan 1998, tingkat kelahiran kembar meningkat sekitar 50 persen secara keseluruhan dan 1.000 persen di kalangan wanita usia 45-49; tingkat triplet dan orde yang lebih tinggi kelahiran kembar melompat lebih dari 400 persen secara keseluruhan, dan 1.000 persen di kalangan wanita di mereka 40-an.

 

  1. Keluhan utama

Pasien dengan hipertensi pada kehamilan didapatkan keluhan berupa seperti sakit kepala terutama area kuduk bahkan mata dapat berkunang-kunang, pandangan mata kabur, proteinuria (protein dalam urin), peka terhadap cahaya, nyeri ulu hati.

 

  1. Riwayat penyakit sekarang

Pada pasien jantung hipertensi dalam kehamilan, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih, nyeri kepala (tidak hilang dengan analgesik biasa ), diplopia, nyeri abdomen atas (epigastrium), oliguria (<400 ml/ 24 jam)serta nokturia dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan  apakah klien menderita diabetes, penyakit ginjal, rheumatoid arthritis, lupus atau skleroderma, perlu ditanyakan juga mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.

 

 

  1. Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti kronis hipertensi (tekanan darah tinggi sebelum hamil), Obesitas, ansietas, angina, dispnea, ortopnea, hematuria, nokturia dan sebagainya. Ibu beresiko dua kali lebih besar bila hamil dari pasangan yang sebelumnya menjadi bapak dari satu kehamilan yang menderita penyakit ini. Pasangan suami baru mengembalikan resiko ibu sama seperti primigravida. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi.

 

  1. Riwayat penyakit Keluarga

Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab jantung  hipertensi dalam kehamilannya. Ada hubungan genetik yang telah diteliti. Riwayat keluarga ibu atau saudara perempuan meningkatkan resiko empat sampai delapan kali

 

  1. Riwayat psikososial

Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.

 

  1. Riwayat maternal

Kehamilan ganda memiliki resiko lebih dari dua kali lipat.

 

  1. Pemeriksaan Fisik
    1. B1 (Breathing)

Pernafasan meliputi sesak nafas sehabis aktifitas, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok, penggunaan obat bantu pernafasan, bunyi nafas tambahan, sianosis.

 

  1. B2 (Blood)

Gangguan fungsi kardiovaskular pada dasarnya berkaitan dengan meningkatnya afterload jantung akibat hipertensi. Selain itu terdapat perubahan hemodinamik, perubahan volume darah berupa hemokonsentrasi. Pembekuan darah terganggu waktu trombin menjadi memanjang. Yang paling khas adalah trombositopenia dan gangguan faktor pembekuan lain seperti menurunnya kadar antitrombin III. Sirkulasi meliputi adanya riwayat hipertensi, penyakit jantung coroner, episodepalpitasi, kenaikan tekanan darah, takhicardi, kadang bunyi jantung terdengar S2 pada dasar , S3 dan S4, kenaikan TD, nadi denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis, takikardi, murmur stenosis valvular, distensi vena jugularis, kulit pucat, sianosis, suhu dingin.

  1. B3 (Brain)

Lesi ini sering karena pecahnya pembuluh darah otak akibat hipertensi. Kelainan radiologis otak dapat diperlihatkan dengan CT-Scan atau MRI. Otak dapat mengalami edema vasogenik dan hipoperfusi. Pemeriksaan EEG juga memperlihatkan adanya kelainan EEG terutama setelah kejang yang dapat bertahan dalam jangka waktu seminggu.Integritas ego meliputi cemas, depresi, euphoria, mudah marah, otot muka tegang, gelisah, pernafasan menghela, peningkatan pola bicara. Neurosensori meliputi keluhan kepala pusing, berdenyut , sakit kepala sub oksipital, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan (diplopia, pandangan kabur), epitaksis, kenaikan terkanan pada pembuluh darah cerebral.

  1. B4 (Bladder)

Riwayat penyakit ginjal dan diabetes mellitus, riwayat penggunaan obat diuretic juga perlu dikaji. Seperti pada glomerulopati lainnya terdapat peningkatan permeabilitas terhadap sebagian besar protein dengan berat molekul tinggi. Sebagian besar penelitian biopsy ginjal menunjukkan pembengkakan endotel kapiler glomerulus yang disebut endoteliosis kapiler glomerulus. Nekrosis hemoragik periporta dibagian perifer lobulus hepar kemungkinan besar merupakan penyebab meningkatnya kadar enzim hati dalam serum.

  1. B5 (Bowel)

Makanan/cairan meliputi makanan yang disukai terutama yang mengandung tinggi garam, protein,  tinggi lemak, dan kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan,  adanya edema.

  1. B6 (Bone)

Nyeri/ketidaknyamanan meliputi nyeri hilang timbul pada tungkai,sakit kepala sub oksipital berat, nyeri abdomen, nyeri dada, nyeri ulu hati. Keamanan meliputi gangguan cara berjalan, parestesia, hipotensi postural

 

  1. Diagnosa Keperawatan
    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan.
    2. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan.
    3. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan.
    4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

 

  1. Intervensi
    1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan frekuensi mual dan muntah berlebihan.

Intervensi

  1. Batasi intake oral hingga muntah berhenti.
    Rasional : Memelihara keseimbangan cairan elektfolit dan mencegah muntah selanjutnya.
  2. Berikan obat anti emetik yang diprogramkan dengan dosis rendah, misalnya Phenergan 10-20mg/i.v.
    Rasional : Mencegah muntah serta memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit
  3. Pertahankan terapi cairan yang diprogramkan.
    Rasional : Koreksi adanya hipovolemia dan keseimbangan elektrolit
  4. Catat intake dan output.
    Rasional : Menentukan hidrasi cairan dan pengeluaran melului muntah.
  5. Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
    Rasional : Dapat mencukupi asupan nutrisi yang dibutuhkan tubuh
  6. Anjurkan untuk menghindari makanan yang berlemak
    Rasional : dapat menstimulus mual dan muntah
  7. anjurkan untuk makan makanan selingan seperti biskuit, roti dan the (panas) hangat sebelum bagun tidur pada siang hari dan sebelum tidur
    Rasional : Makanan selingan dapat mengurangi atau menghindari rangsang mual muntah yang berlebih
  8. Catal intake TPN, jika intake oral tidak dapat diberikan dalam periode tertentu.
    Rasional : Untuk mempertahankan keseimbangan nutrisi.
  9. Inspeksi adanya iritasi atau Iesi pada mulut.
    Rasional : Untuk mengetahui integritas inukosa mulut.
  10. Kaji kebersihan oral dan personal hygiene serta penggunaan cairan pembersih mulut sesering mungkin.
    Rasional : Untuk mempertahankan integritas mukosa mulut
  11. Pantau kadar Hemoglobin dan Hemotokrit
    Rasional : Mengidenfifikasi adanya anemi dan potensial penurunan kapasitas pcmbawa oksigen ibu. Klien dengan kadar Hb < 12 mg/dl atau kadar Ht rendah dipertimbangkan anemi pada trimester I.
  12. Test urine terhadap aseton, albumin dan glukosa..
    Rasional : Menetapkan data dasar ; dilakukan secara rutin untuk mendeteksi situasi potensial resiko tinggi seperti ketidakadekuatan asupan karbohidrat, Diabetik kcloasedosis dan Hipertensi karena kehamilan.
  13. Ukur pembesaran uterus
    Rasional : Malnutrisi ibu berdampak terhadap pertumbuhan janin dan memperberat penurunan komplemen sel otak pada janin, yang mengakibatkan kemunduran perkembangan janin dan kemungkinan-kemungkinan lebih lanjut.
  14. Deflsit volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan.

Intervensi

  1. Tentukan frekuensi atau beratnya mual/muntah.
    Rasional : Memberikan data berkenaan dengan semua kondisi. Peningkatan kadar hormon Korionik gonadotropin (HCG), perubahan metabolisme karbohidrat dan penurunan motilitas gastrik memperberat mual/muntah pada trimester
  2. Tinjau ulang riwayat kemungkinah masalah medis lain (misalnya Ulkus peptikum, gastritis.
    Rasional : Membantu dalam mengenyampingkan penyebab lain untuk mengatasi masalah khusus dalam mengidentifikasi intervensi.
  3. Kaji suhu badan dan turgor kulit, membran mukosa, TD, input/output dan berat jenis urine. Timbang BB klien dan bandingkan dengan standar
    Rasional : Sebagai indikator dalam membantu mengevaluasi tingkat atau kebutuhan hidrasi.
  4. Anjurkan peningkatan asupan minuman berkarbonat, makan sesering mungkin dengan jumlah sedikit. Makanan tinggi karbonat seperti : roti kering sebelum bangun dari tidur.
    Rasional : Membantu dalam meminimalkan mual/muntah dengan menurunkan keasaman lambung.

 

  1. Koping tidak efektif berhubungan dengan perubahan psikologi kehamilan.

Intervensi :

  1. Kontrol lingkungan klien dan batasi pengunjung
    Rasional : Untuk mencegah dan mengurangi kecemasan
  2. Kaji tingkat fungsi psikologis klien
    Rasional : Untuk menjaga intergritas psikologis
  3. Berikan support psikologis
    Rasional : Untuk menurunkan kecemasan dan membina rasa saling percaya
  4. Berikan penguatan positif
    Rasional : Untuk meringankan pengaruh psikologis akibat kehamilan
  5. Berikan pelayanan kesehatan yang maksimal
    Rasional : Penting untuk meningkatkan kesehatan mental klien
  6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.

Intervensi :

  1. Anjurkan klien membatasi aktifitas dengan isrirahat yang cukup.

Rasional : Menghemat energi dan menghindari pengeluaran tenaga yang terus-menerus untuk meminimalkan kelelahan/kepekaan uterus

  1. Anjurkan klien untuk menghindari mengangkat berat.

Rasional : Aktifitas yang ditoleransi sebelumnya mungkin tidak dimodifikasi untuk wanita beresiko.

  1. Bantu klien beraktifitas secara bertahap

Rasional : Aktifitas bertahap meminimalkan terjadinya trauma seita meringankan dalam memenuhi kebutuhannya.

  1. Anjurkan tirah baring yang dimodifikasi sesuai indikasi
    Rasional : Tingkat aktifitas mungkin periu dimodifikasi sesuai indikasi.
  2. Evaluasi
    1. Mual dan mutah tidak ada lagi.
    2. Keluhan subyektif tidak ada.
    3. Tanda-tanda vital baik.

      DAFTAR PUSTAKA

      Hiperemesis/Askep Hiperemesis Gravidarum « Hidayat2’s Blog.htm

      Hiperemesis/hiperemesis-gravidarum.htm

      Hiperemesis/ASKEP HIPERTENSI PADA IBU HAMIL _ Blog Nursing Putri Rahza UNAIR.htm

      Hiperemesis/Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hiperemesis Gravidarum _ runtah.com.htm

By muecliisonagirl

ASUHAN KEPERAWATAN SOLUSIO PLASENTA


ASUHAN KEPERAWATAN SOLUSIO PLASENTA

BAB 1

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan  tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu. Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya. Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.

1.2 Batasan Masalah

Makalah yang kami buat ini dibatasi pada hal-hal yang mngenai solusio plasenta. Tentang definisi solusio plasenta, etiologi, patofisiologi, klasifikasi solusio plasenta, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, prognosis, asuhan keperawatan pada solusio plasenta.

 

1.3 Rumusan Masalah

a)      Apa definisi solusio plasenta ?

b)      Apa etiologi solusio plasenta?

c)      Bagaimana patofisiologi dari solusio plasenta ?

d)     Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

e)      Apa saja manifestasi klinis dari solusio plasenta ?

f)       Apa saja pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan solusio plasenta ?

g)      Apa saja klasifikasi dari solusio plasenta ?

h)      Apa prognosis dari solusio plasenta ?

i)        Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta ?

 

1.4 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini yaitu :

a)      Untuk mengetahui definisi solusio plasenta.

b)      Untuk mengetahui etiologi dari solusio plasenta.

c)      Untuk mengetahui patofisiologi dan solusio plasenta.

d)     Untuk mengetahui kalsifikasi dari solusio plasenta.

e)      Untuk mengetahui manifestasi klinis dari solusio plasenta.

f)       Untuk mengetahui pemeriksaan pemnunjang untuk solusio plasenta.

g)      Untuk mengetahui klasifikasi dari solusio plasenta.

h)      Untuk mengetahui prognosis dari solusio plasenta.

i)        Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan solusio plasenta.

 

 

1.5 Manfaat

Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sidikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai asuhan keperawatan pasien dengan solusio plasenta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

ISI

 

2.1 Definisi

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum janin lahir, dengan masa kehamilan 22 minggu / berat janin di atas 500 gr.

 

2.2 Etiologi

Etiologi dari solusio belum diketahui secara pasti. Faktor predisposisi yang mungkin ialah hipertensi kronik, trauma eksternal, tali pusat pendek, defisiensi gizi, merokok, konsumsi alkohol, penyalah gunaan kokain, umur ibu yang tua.

 

2.3 Patofisiologi

Terjadinya solusio plasenta dipicu oleh perdarahan ke dalam desidua basalis yang kemudian terbelah dan meningkatkan lapisan tipis yang melekat pada mometrium sehingga terbentuk hematoma desidual yang menyebabkan pelepasan, kompresi dan akhirnya penghancuran plasenta yang berdekatan dengan bagian tersebut.

Ruptur pembuluh arteri spiralis desidua menyebabkan hematoma retro plasenta yang akan memutuskan lebih banyak pembuluh darah, hingga pelepasan plasenta makin luas dan mencapai tepi plasenta, karena uterus tetap berdistensi dengan adanya janin, uterus tidak mampu berkontraksi optimal untuk menekan pembuluh darah tersebut. Selanjutnya darah yang mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban.

 

 

 

 

Pohon masalah

 

Trauma

Perdarahan ke dalam desidualbasalis

Terbelah & meninggal lapisan tipis pada miometrium

Terbentuk hematoma desidual

Penghancuran plasenta

Ruptur pembuluh arteri spinalis desidua

Hematoma retroplasenta

Pelepasan plasenta lebih banyak

Uterus tidak mampu berkontraksi optimal

Darah mengalir keluar dapat melepaskan selaput ketuban

Syok hipovolemik

 

 

 

 

 

2.4 Klasifikasi

  1. Menurut derajat lepasnya plasenta

a)      Solusio plasenta partsialis

Bila hanya sebagaian plasenta terlepas dari tepat pelekatnya.

b)      Solusio plasenta totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat pelekatnya.

c)      Prolapsus plasenta

Bila plasenta turun kebawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.

 

  1. Menurut derajat solusio plasenta dibagi menjadi :

a)      Solusio plasenta ringan

Ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak akan menyebabkan perdarahan pervaginan berwarna kehitaman dan sedikit. Perut terasa agk sakit atau terus menerus agak tegang. Bagian janin masih mudah diraba.

b)      Solusio plasenta sedang

Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tanda dan gejala dapat timbul perlahan atau mendadak dengan gejala sakit terus menerus lalu perdarahan pervaginan. Dinding uterus teraba tegang.

c)      Solusio plasenta berat

Plasenta telah lepas dari dua pertiga permukaan disertai penderita shock.

 

2.5 Manifestasi Klinis

  1. Anamnesis

Perdarahan biasanya pada trimester ketiga, perdarahan pervaginan berwarna kehitam-hitaman yang sedikit sekali dan tanpa rasa nyeri sampai dengan yang disertai nyeri perut, uterus tegang perdarahan pervaginan yang banyak, syok dan kematian janin intra uterin.

 

 

 

 

  1. Pemeriksaan fisik

Tanda vital dapat normal sampai menunjukkan tanda syok.

  1. Pemeriksaan obstetri

Nyeritekan uterus dan tegang, bagian-bagian janin yang sukar dinilai, denyut jantung janin sulit dinilai / tidak ada, air ketuban berwarna kemerahan karena tercampur darah.

2.6 Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan laboratorium darah : hemoglobin, hemotokrit, trombosit, waktu protombin, waktu pembekuan, waktu tromboplastin, parsial, kadar fibrinogen, dan elektrolit plasma.
  2. Cardiotokografi untuk menilai kesejahteraan janin.
  3. USG untuk menilai letak plasenta, usia gestasi dan keadaan janin.

 

2.7 Komplikasi

1)      Langsung (immediate)

  • Perdarahan
  • Infeksi
  • Emboli dan syok abtetric.

2)      Tidak langsung (delayed)

  • Couvelair uterus, sehinga kontraksi tak baik, menyebabkan perdarahan post partum.
  • Hipofibrinogenamia dengan perdarahan post partum.
  • Nikrosis korteks neralis, menyebabkan anuria dan uremia
  • Kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis.

3)      Tergantung luas plasenta yang terlepas dan lamanya solusio plasenta berlangsung. Komplikasi pada ibu ialah perdarahan, koalugopati konsumtif (kadar fibrinogen kurang dari 150 mg % dan produk degradasi fibrin meningkat), oliguria, gagal ginjal, gawat janin, kelemahan janin dan apopleksia utero plasenta (uterus couvelar). Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi komplikasi asfiksia, berat badan lahir rendah da sindrom gagal nafas.

 

2.8 Penatalaksanaan

  1. Harus dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas operasi .
  2. Sebelum dirujuk , anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke kiri , tidak melakukan senggama , menghindari eningkatan tekanan rongga perut .
  3. Pasang infus cairan Nacl fisiologi . Bila tidak memungkinkan, berikan cairan peroral .
  4. Pantau tekanan darah & frekuensi nadi tiap 15 menit untuk mendeteksi adanya hipotensi / syk akibat perdarahan . pantau pula BJJ & pergerakan janin .
  5. Bila terdapat renjatan , segera lakukan resusitasi cairan dan tranfusi darah , bila tidak teratasi , upayakan penyelamatan optimal dan bila teratsi perhatikan keadaan janin .
  6. Setelah renjatan diatasi pertimbangkan seksio sesarea bila janin masih hidup atau persalinan pervaginam diperkirakan akan berlangsung lama . bila renjatan tidak dapat diatasi , upayakan tindakan penyelamatan optimal .
  7. Setelah syok teratasi dan janin mati , lihat pembukaan . bila lebih dari 6 cm pecahkan ketuban lalu infus oksitosin . bila kurang dari 6 cm lakukan seksio sesarea .
  8. Bila tidak terdapat renjatan dan usia gestasi kurang dari 37 minggu / taksiran berat janin kurang dari 2.500 gr . penganganan berdasarkan berat / ringannya penyakit yaitu :

a)      Solusi plasenta ringan .

  • Ekspektatif , bila ada perbaikan ( perdarahan berhenti , kontraksi uterus tidak ada , janin hidup ) dengan tirah baring atasi anemia , USG & KTG serial , lalu tunggu persalinan spontan .
  • Aktif , bila ada perburukan ( perdarahan berlangsung terus , uterus berkontraksi , dapat mengancam ibu / janin ) usahakan partus pervaginam dengan amnintomi / infus oksitosin bila memungkinan . jika terus perdarahan skor pelvik kurang dari 5 / ersalinan masih lama , lakukan seksi sesarea

b)      Slusio plasenta sedang / berat .

  • Resusitasi cairan .
  • Atasi anemia dengan pemberian tranfusi darah .
  • Partus pervaginam bila diperkirakan dapat berkurang dalam 6 jam perabdominam bila tidak dapat renjatan , usia gestasi 37 minggu / lebih / taksiran berat janin 2.500 gr / lebih , pikirkan partus perabdominam bila persalinan pervaginam diperkirakan berlangsung lama .

 

2.9 Prognosis

  1. Terhadap ibu

Mortalitas ibu 5 – 10 % hal ini karena adanya perdarahan sebelum dan sesudah partus.

  1. Terhadap anak

Mortalitas anak tinggi mencapai 70 – 80 % hal ini tergantung derajat pelepasan dari plasenta.

  1. Terhadap kehamilan berikutnya

Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta, maka kehamilan berikutnya sering terjadi solusio plasenta yang lebih hebat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

ASUHAN KEPERAWATAN PADA

SOLUSIO PLACENTA

 

3.1 Pengkajian

  1. Biodata

Pada biodata yang perlu dikaji berhubungan dengan solusio plasenta antara lain

  1. Nama

Nama dikaji karena nama digunakan untuk mengenal dan merupakan identitas untuk membedakan dengan pasien lain dan menghindari kemungkinan tertukar nama dan diagnosa penyakitnya.

  1. Jenis kelamin

Pada solusio plasenta diderita oleh wanita yang sudah menikah dan mengalami kehamilan.

  1. Umur

Solusio plasenta cenderung terjadi pada usia lanjut (> 45 tahun) karena terjadi penurunan kontraksi akibat menurunnya fungsi hormon (estrogen) pada masa menopause.

  1. Pendidikan

Solusio plasenta terjadi pada golongan pendidikan rendah karena mereka tidak mengetahui cara perawatan kehamilan dan penyebab gangguan kehamilan.

  1. Alamat

Solusio plasenta terjadi di lingkungan yang jauh dan pelayanan kesehatan, karena mereka tidak pernah dapat pelayanan kesehatan dan pemeriksaan untuk kehamilan.

  1. Riwayat persalinan

Riwayat persalinan pada solusio plasenta biasanya pernah mengalami pelepasan plasenta.

 

 

  1. Status perkawinan

Dengan status perkawinan apakah pasien mengalami kehamilan (KET) atau hanya sakit karena penyakit lain yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

  1. Agama

Untuk mengetahui gambaran dan spiritual pasien sebagai memudahkan dalam memberikan bimbingan kegamaan.

  1. Nama suami

Agar diketahui siapa yang bertanggung jawab dalam pembiayaan dan memberi persetujuan dalam perawatan.

  1. Pekerjaan

Untuk mengetahui kemampuan ekonomi pasien dalam pembinaan selama istrinya dirawat.

 

  1. Keluhan utama
  • Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri
  • Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.
  • Perdarahan yang berulang-ulang.
  1. Riwayat penyakit sekarang

Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darh, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.

 

  1. Riwayat penyakit masa lalu

Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek, trauma, uterus / rahim feulidli.

 

  1. Riwayat psikologis

Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.

  1. Pemeriksaan fisik

a)      Keadaan umum

  • Kesadaran : composmetis s/d coma
  • Postur tubuh : biasanya gemuk
  • Cara berjalan : biasanya lambat dan tergesa-gesa
  • Raut wajah : biasanya pucat

b)      Tanda-tanda vital

  • Tensi : normal sampai turun (syok)
  • Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
  • Suhu : normal / meningkat (> 370 c)
  • RR : normal / meningkat (> 24x/menit)

c)      Pemeriksaan cepalo caudal

  • Kepala : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.
  • Muka : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma
  • Hidung : biasanya ada pernafasan cuping hidung
  • Mata : conjunctiva anemis
  • Dada : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat da dangkal, hiperpegmentasi aerola.
  •  Abdomen

–          Inspeksi : perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra

–          Palpasi rahim keras, fundus uteri naik

–          Auskultasi : tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.

  • Genetalia

Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.

  • Ekstimitas

Akral dingin, tonus otot menurun.

 

d)     pemeriksaan penunjang

  • Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.
  • USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin

3.2.  Daftar Diagnosa Keperawatan

1)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis , acral dingin , Hb turun , muka pucat & lemas .

2)      Resiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .

3)      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus di tandai terjadi distress / pengerasan uterus , nyeri tekan uterus .

4)      Gangguan psikologi ( cemas ) berhubungan dengan keadaan yang dialami .

5)      Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan .

6)      Kurang pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi .

3.3.  Intervensi Keperawatan

1)      Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan ditandai dengan conjunctiva anemis, acrar dingin, Hb turun, muka pucat, lemas.

– Tujuan : suplai / kebutuhan darah kejaringan terpenuhi

– Kriteria hasil

Conjunctiva tida anemis, acral hangat, Hb normal muka tidak pucat, tida lemas.

– Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien

Rasional : pasien percaya tindakan yang dilakukan

2. Jelaskan penyebab terjadi perdarahan

Rasional : pasien paham tentang kondisi yang dialami

3.Monitor tanda-tanda vital

Rasional : tensi, nadiyang rendah, RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah.

4.Kaji tingkat perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengantisipasi terjadinya syok

5.Catat intake dan output

Rasional : produsi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal.

6.Kolaborasi pemberian cairan infus isotonik

Rasional : cairan infus isotonik dapat mengganti volume darah yang hilang akiba perdarahan.

7.Kolaborasi pemberian tranfusi darah bila Hb rendah

Rasional : tranfusi darah mengganti komponen darah yang hilang akibat perdarahan.

 

2)      Resiko tinggi terjadinya fetal distres berhubungan dengan perfusi darah ke placenta berkurang.

– Tujuan : tidak terjadi fetal distress

– Kriteria hasil : DJJ normal / terdengar, bisa berkoordinasi, adanya pergerakan bayi,

bayi lahir selamat.

– Intervensi

1. Jelaskan resiko terjadinya dister janin / kematian janin pada ibu

Rasional : kooperatif pada tindakan

2. Hindari tidur terlentang dan anjurkan tidur ke posisi kiri

Rasional : tekanan uterus pada vena cava aliran darah kejantung menurun sehingga terjadi perfusi jaringan.

3. Observasi tekanan darah dan nadi klien

Rasional : penurunan dan peningkatan denyut nadi terjadi pad sindroma vena cava sehingga klien harus di monitor secara teliti.

4.Oservasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin

Rasional : penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen dalam janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin.

5.Berikan O2 10 – 12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress

Rasional : meningkat oksigen pada janin.

 

3)      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kontraksi uteres ditandai terjadi distrensi uterus, nyeri tekan uterus.

– Tujuan : klien dapat beradaptasi dengan nyeri

– Kriteria hasil :

* Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.

* Klien kooperatif dengan tindakan yang dilakukan.

– Intervensi

1. Jelaskan penyebab nyeri pada klien

Rasional : dengan mengetahui penyebab nyeri, klien kooperatif terhadap tindakan

2. Kaji tingkat nyeri

Rasional : menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.

3. Bantu dan ajarkan tindakan untuk mengurangi rasa nyeri.

– Tarik nafas panjang (dalam) melalui hidung dan meng-hembuskan pelan-pelan

melalui mulut.

Rasional : dapat mengalihkan perhatian klien pada nyeri yang dirasakan.

– Memberikan posisi yang nyaman (miring kekiri / kanan)

Rasional : posisi miring mencegah penekanan pada vena cava.

– Berikan masage pada perut dan penekanan pada punggung

Rasional : memberi dukungan mental.

 

 

 

4)      Gangguan psikologis (cemas) berhubungan dengan keadaan yang dialami

– Tujuan : klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya.

– Kriteria hasil : penderita tidak cemas, penderita tenang, klie tidak gelisah.

– Intervensi

1. Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan.

Rasional : dengan mengungkapkan perasaannyaaka mengurangi beban pikiran.

2. Ajak klien mendengarkan denyut jantung janin

Rasional : mengurangi kecemasan klien tentag kondisi janin.

3.Beri penjelasan tentang kondisi janin

Rasional : mengurangi kecemasan tentang kondisi / keadaan janin.

4.Beri informasi tentang kondisi klien

Rasional : mengembalikan kepercayaan dan klien.

5.Anjurkan untuk manghadirkan orang-orang terdekat

Rasional : dapat memberi rasa aman dan nyaman bagi klien

6.Anjurkan klien untuk berdo’a kepada Tuhan

Rasional : dapat meningkatkan keyakinan kepada Tuhan tentang kondisi yang dilami.

7.Menjelaskan tujuan dan tindakan yang akan diberikan

Rasional : penderita kooperatif.

 

5)      Potensial terjadinya hypovolemik syok berhubungan dengan perdarahan

– Tujuan : syok hipovolemik tidak terjadi

– Kriteria hasil :

* Perdarahan berkurang

*  Tanda-tanda vital normal

* Kesadaran kompos metit

– Intervensi

1.Kaji perdarahan setiap 15 – 30 menit

Rasional : mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.

2.Monitor tekanan darah, nadi, pernafasan setiap 15 menit, bila normal observasi dilakukan setiap 30 menit.

Rasional : mengetahui keadaan pasien

3.Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, menguap terus keringat dingin, kepala pusing.

Rasional : menentkan intervensi selanjutnya dan mencegah syok sedini mungkin

4.Kaji konsistensi abdomen dan tinggi fundur uteri.

Rasional : mengetahui perdarahan yang tersembunyi

5.Catat intake dan output

Rasional : produksi urine yang kurang dari 30 ml/jam merupakan penurunan fungsi ginjal.

6.Berikan cairan sesuai dengan program terapi

Rasional : mempertahanka volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat dan sebagian persiapan bila diperlukan transfusi darah.

6)      Kurangnya pengetahuan klien tentang keadaan patologi yang dialaminya berhubungan dengan kurangnya informasi

– Tujuan : penderita dapat mengerti tentang penyakitnya.

– Kriteria hasil : dapat menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan penyakitnya.

– Intervensi

1. Kaji tingkat pengetahuan penderita tentang keadaanya

Rasional : menentukan intervensi keperawatan selanjutnya.

2. Berikan penjelasan tentang kehamilan dan tindakan yang akan dilakukan.

a. Pengetahua tentang perdarahan antepartum.

b. Penyebab

c. Tanda dan gejala

d. Akibat perdarahan terhadap ibu dan janin

e. Tindakan yang mungkin dilakukan

Rasional : penderita mengerti dan menerima keadaannya serta pederita menjadi kooperatif.

 

 

 

BAB 4

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.

Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.

Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.

Gejala dan tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap. Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

MANSJOER ARIF DKK . 2001.KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN. EDISI 3 JILID 1.FK UI . JAKARTA

By muecliisonagirl

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN PENYAKIT GINJAL


ASUHAN KEPERAWATAN

IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN PENYAKIT

GINJAL

TINJAUAN PUSTAKA

GANGGUAN GINJAL PADA IBU HAMIL

Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan anatomic ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan hasil laboraturium. Apabila hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada kemungkinan salah membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin. Perubahan anatomic terdapat peningkatan pembuluh darah, dan ruangan intertisiil pada ginjal. Dan juga ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya itu akan kembali normal setelah melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pelebaran dalam kurun waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi sebelah kanan. Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uterus yang membesar dan mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pada vena ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang di sebelah kiri tidak terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga karena pengaruh progesterone, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis dalam kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk, dan kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi intravena (IVP=intravenosus pylography).

Selain itu juga terjadi hyperplasia dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Dilatasi ureter ini memunginkan timbulnya refluks air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter. Akibat pembesaran uterus, hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal, terjadi perubahan pada kandung kemih yang dimulai pada kehamilan usia 4 bulan. Kandung kemih akan berpindah ke lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormone esterogen. Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 Liter, kemungkinan karena efek relaksasi dari hormone progesterone.

 

 

Perubahan fungsi

Segera sesudah konsepsi, terjadi peningkatan aliran plasma (RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (GFR). Sejak kehamilan trimester 2 GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/100 ml dan urea nitrogen darah 8-12 minggu/100ml.

Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. urin yang diperiksa harus bersih, segar, dan dari aliran tengah (midstream) atau duambil dengan pungsi suprasimpisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 103  per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin pula disertai dengan gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun infeksi ini dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darah atau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escheria coli (E.coli), di samping kemungkinan kuman-kuman lain seperti Enterbacter aerogenes, Klebsiella, Psedomonas dan lain-lain.

  1. 1.      Bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik)

Frekuensi bacterium tanpa gejala kira-kira 2-10 %, dan dipengaruhi oleh parietas, sosioekonomi wanita hamil tersebut. Di Amrika Serikat paling tiggi ditemukan pada wanita Negro. Di RS Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, frekuensi bakteriuria tanpa gejaala dalam kehamilan sangat tinggi, yaitu 25%.

Beberapa peneliti mendapatkan adanya hubungan kejaian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam kehamilan persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklamsia. Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yan dibuktikan dengan pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamide ampisilin, atau nitrofurantoin.

  1. 2.      Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)

Sistisis

Sistitis adalah peradangan kandung kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E.coli, di samping dapat pula oleh kuman-kuman lain. Factor predisposisi lain adalah uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, di samping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau persalinan. Penggunaan kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di uretra distal untuk masuk ke dalam kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter bila tidak perlu betul.

Gejala-gejala sistitis khas sekali, yaitu disuria terutama pada akhir berkemih, meningkatnya frekuensi bekemih dan kadang-kadang disertai nyeri di bagian atas simpisis, perasaan ingin berkemih yang tidak dapat ditahan,air kemih kadang-kadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau meningkat, dan nyeri di daerah suprasimpisis. Pada pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan proteinuria biasanya tidk ada.

Sistititis dapat diobati dengan sulfonamide, ampicilin, eritromisin. Perlu diperhatikan obat-obat lain yang baik digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih, akan tetapi mempunyai pengaruh tidak bagi janin, ataupun bagi ibu.

Pielonefritis akuta

Merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai dalam kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan terakhir, dan permulaan masa nifas.

Penyakit ini biasanya disebabkan oleh Escheria coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti Stafilokokus aereus, Basillus proteus, dan pseudomonas aeruginosa. Kuman dapat menyebar secara hematogen atau limfogen, akan tetapi terbanyak berasal dari kandung kemih. Predisposisinya antara lain yaitu penggunaan kateter untuk mengeluarkan air kemih waktu persalinan atau kehamilan, air kemih yang tertahan sebab perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan, atau luka pada jalan lahir. Diajurkan tidak menggunakan kateter untuk mengeluarkan air kemih, bila tidak diperlukan betul. Penderita yang menderita pielonefritis kronik atau glomeroluneftitis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong terjadinya pielonefritis akuta i

ni.

Gejala-gejala penyakit biasanya timbul mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung kemih, tiba-tiba menggigil, badan panas, dan rasa nyeri di punggung (angulus kostovertebralis) terutama sebelah kanan. Nafsu makan berkurang, mual, muntah-muntah, dan kadang diare, dan dapat pula jumlah urin sangat berkurang (oligouria). Pada pemeriksaan air kemih ditemukan banyak sel leukosit dan sering bergumpal-gumpal, silinder sel darah, dan kadang-kadang ditemukan bakteri E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil positif. Perlu diperhatikan diagnosis banding lain seperti appendicitis akuta, solusio plasenta, tumor putaran tungkai, dan infeksi nifas.

Pengobatan pielonefritis akuta, penderita harus dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibioitika seperti ampicilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan kuman ada, kemudian tes antibiotic disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu diingat ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrsiklin. Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu umumnya cukup baik bila pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada hasil konsepsi seringkali menimbulkan keguguran atau persalinan premature.

Pielonefritis kronika

Pielonefritis kronik biasanya tidak atau sedikit sekali menunjukkkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan. Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glomerolus (GFR) dan pada urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 gr per hari, gumpalan sel-sel darah putih.

Prognosis bagi ibu dan janin tergantung dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi dan insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderit pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah pielonefritis akuta, terapi sperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita pielonefritis kronika.

Glomerulonefritis akuta

Glomerulonefritis akuta jarang dijumpai pada wanita hamil. Peyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan, dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. sering ditemukan bahwa penderita pada saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi jalan pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh streptokokus, suatu hal yang menyokong teori infeksi local.

Gambaran klinik ditandai oleh timbulnya hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita sebelumnya tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oligouria sampai anuria, nyeri kepala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit apabila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, atau oleh uremia, atau apabila timbul edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya diketahui dalam trimester III, maka perbedann dengan preeklamsia dan eklampsia selalu harus dibuat. Pemeriksaan air kencing menghasilkan sebagai berikut: sering proteinuria, ditemukan eritrosit dan silinder hialin, silinder korel, dan silinder eritrosit.

Pengobatan sama di luar kehamilan dengan perhatian khusus, istirahat baring, diet yang sempurna dan rendah garam, pengendalian hipertensi serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberantasan infeksi cukup diberi penicillin, karena streptococcus peka terhadap penicillin. Apabila ini tidak berhasil, maka harus dipakai antibiotika yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.

Biasanya penderita sembuh tanpa sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal yang tetap baik. Kehamilan dapat berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan apabila diinginkan wanita boleh hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menjadi menahun dengan segala akibatnya. Ada umumnya prognosis ibu cukup baik. Kematian ibu sangat jarang, dan apabila terjadi biasanya itu diakibatkan oleh dekompensasi kordis, komplikasi serebro-vaskuler anuria, dan uremia.

Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit. Sebaliknya glomerulonefritis akuta mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasi konsepsi; terutama yang disertai tekanan darah yang sangat tingggi dan insufisiensi ginjal, dapat menyebabkan abortus, partus prematurus dan kematian janin.

Glomerulonefritis kronika

Wanita hamil dengan glomerulonefritis kronika sudah menderita penyakit itu beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, pada pemeriksaan kehamilan pertama dapat dijumpai proteinuria, sedimen yang  tidak normal, dan hipertensi. Diagnosis mudah dibuat bila dijumpai proteinuria, sedimen yang  tidak normal, dan hipertensi. Apabila gejala-gejala penyakit penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah lanjut, atau ditambah dengan pengaruh kehamilan (superimposed preeclampsia), maka lebih sulit untuk membedakannya dari preeklampsi  murni.

Suatu ciri tetap ialah makin memburuknya fungsi ginjal karena makin lama makin banyak kerusakan yang diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkan sampai mencapai tingkat akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini dapat menampakkan diri dalam 4 macam: (01) hanya terdapat proteinuria menetap dengan atau tanpa kelainan sedimen; (02) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik; (03) dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis akuta; (04) gagal ginjal sebagai penjelmaaan pertama. Keempat-empatnya dapat menimbulkan gejala-gejala insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.

Selain proteinuria, kelainan sedimen dan hipertensi, dapat pula dijumpai edema (terutama di muka), dan anemia. Pemeriksaan kimiawi darah menunjukkan urea-nitrogen, kadar asidum urikum, dan kadar kreatinin yang tinggi. Pengeluaran fenosufonftalein dan kreatinin oleh ginjal lebih lambat.

Pengobatan tidak memberi hasil yang memuaskan karena penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang sangat tinggi, dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi dengan seksama. Dalam hal-hal terakhir pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan. Sebaiknya penderita glomerulonefritis kronika tidak menjadi hamil. Karena kerusakan ginjal  berbeda-beda pada waktu penderita ditemukan hamil, maka sulit untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan penyakit. Yang tanpa kehamilan juga makin lama makin menjadi lebih buruk. Agaknya kehamilan tidak mempercepat proses kerusakan ginjal, walaupun sebaliknya dapat pula terjadi.

Prognosis bagi ibu akhirnya buruk: ada yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasnya kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidaknya faktor-faktor yang mempercepat proses penyakit.

Prognosis bagi janin dalam kasus tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat insufisiensi placenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tekanan darah yang sangat tinggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan partus prematurus, atau janin mati dalam kandungan.

Sindroma nefrotik

Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas edema, proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbuminemia, dan hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi antigen-antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit yang dapat menyertai sindroma nefrotik adalah glomerulonefritis kronika (paling sering), lupus eritemosus, DM, amiloidosis, sifilis, dan thrombosis vena renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat (timah, air raksa), obat-obatan antikejang, serta racun serangga.

Apabila kehamilan disertai sindroma nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.

Sedapat mungkin faktor penyebabnya harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsy ginjal. Penderita harus diobati dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang menjadi sebab harus dihentikan. Penderita diberi diet tinggi protein. Infeksi sedapat-dapatnya dicegah dan yang sudah ada harus diberantas dengan antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul dalam nifas. Siberman dan Adam mengajarkan pengobatan antibeku (heparin) dalam nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik. Dapat pula diberi obat-obat kortikosteroid dalam dosis tinggi.

Gagal ginjal mendadak dalam kehamilan

Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas, karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi ginjalyang tidak bisa sembuh lagi.  Kejadiannya 1 dalam 1300-1500 kehamilan.

Kelainan ini didasari oleh 2 jenis patologi.

  1. Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan.
  2. Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal ayng menderita.

Penderita yang mengalami gagal ginjal mendadak ini sering dijumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu, dan kehamilan telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering diakibatkan oleh abortus septic yang diakibatkan oleh bakteri Chlostridia welchii atau streptococcus. Gambaran klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda oligouria mendadak dan azothemia serta pembekuan darah intravaskuler (DIC), sehingga terjadi nekrosis tubular yg akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila kerusakan tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali dilakukan tindakan tindakan histerektomi untuk menagatasinya, akan tetapi ada peneliti yang menganjurkan tidak perlu melakukan operasi histerektomi tersebut asalkan penderita diberikan antibiotic yang adekuat dan intensif serta dilakukan dialysis terus menerus sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan nekrosis kortikal yang bilateral, biasanya dihubungkan dengan solusio plasenta, preeclampsia berat atau eklampsia, kematian janin dalam kandungan yang lama, emboli air ketuban yang mnyebabkan terjadinya DIC,  reaksi transfuse darah atau pada perdarahan banyak yang dapat menimbulkan iskemi.

Penderita dapat meninggal dalam waktu 7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar atau ke seluruh jaringan ginjal.

Pada masa nifas sulit diketahui sebabnya,  sehingga disebut sindrom ginjal idiopatik postpartum. Penanggulangan pada keadaan ini, penderita diberi infuse, atau transfusi darah, diperhatikan keseimbangan elektrolit dan cairan dan segera dilakukan hemodialisis bila ada tanda-tanda uremia. Banyak penderita membutuhkan hemodialis secara teratur atau dilakukan transplantasiginjal untuk ginjal yang tetap gagal. Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:

  1. Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik:
  2. Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan baik;
  3. Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati.

Batu ginjal (nefrolitiasis) dan saluran kemih (urolitiasis)

Batu saluran kemih dalam kehamilan tidaklah biasa. Frekuensinya sangat sedikit 0.03-0,07%. Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urotiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat penyakit sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan pemeriksaan intravenous pielografi; akan tetapi janin harus dilindungi dari efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG dan MRI.

Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir  80% batu akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atatu setelah post partum. Pada batu buli-buli, bila batu tersebut diperkirakan menghalangi jalannya persalinan, kehamilan diakhiri dengan SC, dan batu diangkat post partum dengan seksio alta atau lipotripsi.

Ginjal polikistik

Ginjal polikistik merupakan kelainan bawaan (herediter). Kehamilan umunya tidak mempengaruhi perkembangan pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya. Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tingggi.

Tuberkulosis ginjal

Jarang dijumpai wanita hamil dengan tuberculosis ginjal, walaupun dalam literature disebutkan ada. Kehamilan akan mempengaruhi TBC ginjal tersebut, bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik.

Diagnosis TBC ginjal ditentukan bila ditemukan tuberkel kuman MIkrobakterium tuberculosis pada ginjal, tetapi hal ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan invasive. Tes Tuberkulin tidak dapat dijadikan patokan karena kehamilan mengurangi sensitivitas tuberculin. Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan leukosit, eritrosit, dan tuberculosis dalam urin.

Penanganan TBC ginjal dalam kehamilan:

  1. Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul sampai akhir kehamilan.
  2. Paliatif, dengan melakukan terminasi kehamilan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh proses tuberculosis.
  3. Radikal, yang terdiri atas nefroktomi atau kombinasi aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan apabila tuberculosis hanya terjadi pada 1 ginjal. Tindakan ini diperlukan pada 69% kasus tuberculosis ginjal dengan eksaserbasi akut pada kehamilan. Aborsi tidak menghentikan proses tuberculosis.

Komplikasi yang dapat terjadi adalah abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak diobati berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboraturium khusus

Kehamilan pasca nefrektomi

Pada penderita yang mempunyai  1 ginjal karena kelainan congenital atau pasca nefrektomi, dapat atau boleh hamil sampai aterm asalkan fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi ginjal sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik karena kemungkinan timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung pervaginam kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.

Kehamilan pasca transplantasi ginjal

Akhir-akhir ini terdapat laporan tentang kehamilan sampai cukup bulan, setelah wanita mengalami transplantasi ginjal. Prognosisnya cukup baik, bila ginjal yang diimplantasikan tersebut berasal dari donor yang hidup. Selama kehamilan mungkin timbul kompikasi pada ibu dan janinnya.

Kira-kira 50% kehamilan akan berakhir dengan kelahiran premature, dan mungkin pula timbul komplikasi hipertensi, proteinuria, atau infeksi saluran kemih. Pada ginjal sendiri mungkin dapat timbul kerusakan yang sifatnya dapat pulih kembali normal.

Bila ginjal yang ditransplantasikan tersebut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal (cadaver), maka kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1 tahun, sehingga pada waniat tersebut harus dilakukan dialysis terus menerus untuk mempertahankan kehidupannya. Wanita yang menginginkan hamil hamil setelah dapat tranplantasi giinjal, haruslah diawasi ketat oleh spesialis obstetric dan spesialis penyakit ginjal.

Sebaiknya tentu wanita ini tidak hamil lagi. Davidson dkk mengajukan 8 kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang wanita yang telah mendapatkan transplantasi ginjal, untuk diperbolehkan hamil.

  1. Kesehatan penderita dalam keadaan baik dalam waktu 1-2 tahun setelah mendapatkan transplantasi ginjal
  2. Tidak ada kontraindikasi obstetric untuk ibu hamil.
  3. Tidak ada proteinuria
  4. Tidak ada tanda-tanda penolakan graft
  5. Fungsi ginjal harus baik, dengan hasil pemeriksaan laboraturium didapat kadar kreatinin darah antara 0,8 -2 mg/ml
  6. Tidak ada tanda-tanda bendungan, yang dibuktikan dengan pemeriksaan urogram
  7. Tidak ada tanda-tanda hipertensi
  8. Mendapat terapi
    1. Prednisone 10-15 mg/hari
    2. Aothioprin 2-3 mg/kg bb/ hari

Perlu diperhatikan kriteria Davidson tersebut, agar wanita yang mempunyai transplantasi ginjal dapt ditolong, sehingga kehamilan tidak membuat penderita atau janin mengalami komplikasi yang tidak diharapkan sama sekali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PIELONEFRITIS

  1. Pengertian

Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua ginjal ( Brunner & Suddarth, 2002).

Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J.C.E. Underwood, 2007).

Kehamilan adalah suatu peristiwa alami dan fisiologis yang terjadi pada wanita yang didahului oleh suatu peristiwa fertilisasi yang membentuk zigot dan akhirnya menjadi janin yang mengalami proses perkembangan di dalam uterus sampai proses persalinan (Netti Herlina, 2006).

 

  1. Etiologi

a)      Bakteri (Escherichia Coli, Klebsiella Pneumoniac, Streptococcus Fecalis).

b)      Obstruksi urinari track.

c)      Refluks.

d)     Kehamilan.

e)      Kencing manis.

f)       Keadaan-keadaan menurunnya imunitas untuk melawan infeksi.

(Barbara Engram, 1988).

  1. Manifestasi Klinis

Gejala yang paling umum dapat berupa demam tiba-tiba, kemudian dapat disertai menggigil, nyeri punggung bagian bawah, mual dan muntah (Barbara Engram, 1988).

  1. Patofisiologi

Bakteri naik ke ginjal dan pelvis ginjal melalui saluran kandung kemih dan uretra. Flora normal fekal seperti E. Coli, Streptococcus Fecali, Pseudomonas Aeruginosa, dan Staphilococcus Aureus adalah bakteri paling umum yang menyebabkan pielonefritis akut, E. Coli menyebabkan sekitar 85% infeksi. Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kulit dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghasilkan fibrosis dan scarring pielonefritis kronik muncul setelah periode berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratik dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi gagal ginjal

(Barbara Engram, 1988).

 

  1. Pemeriksaan Diagnostik
    1. Whole Blood.
    2. Urinalisis.
    3. USG dan Radiologi.
    4.  BUN.
    5. Kreatinin.
    6. Serum Selectrolytes.

(Barbara Engram, 1988).

  1. Komplikasi

a)         Nekrosis papila ginjal.

b)         Fionefrosis.

c)          Abses perinefrit.

(Barbara Engram, 1988).

  1.  Penatalaksanaan

a)      Terapi antimikroba spesifik organisme:

  • Biasanya dimulai segera untuk mencakup prevalen patogen gram negatif, kemudian disesuaikan berdasarkan hasil kultur urine.
  • Pengobatan dilakukan 2 minggu atau lebih.

b)      Pengobatan pasien rawat inap dengan terapi antimikroba parenteral jika pasien tidak dapat mentoleransi asupan oral dan mengalami dehidrasi atau penyakit akut.

c)      Drainase perkutan atau terapi antibiotik yang lama diperlukan untuk mengobati abses renal atau abses perinefrik.

(Barbara Engram, 1988).

 

 

 

 

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

  1. PENGKAJIAN
    1. Data subyektif
    2. Data obyektif
  • Data demografi (Biodata pasien)
  • Umur biasanya sering terjadi pada primy gravid, < 20 tahun > 35 tahun
  • Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi, oedem, pusing, nyeri epigastrum, mual muntah, penglihatan kabur
  • Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal, anemia, vaskuler esensial, hipertensi kronik, DM.
  • Riwayat keluarga : apakah ada sebelumnya keluarga yang menderita hipertensi.
  • Pola nutria : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan.
  • Psikososial spiritual : emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan, oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya.

Pemeriksaan Fisik

  1. Keadaan Umum
  2. TTV
  3. Genitourinaria : urine keruh, proteinuria, penurunan urine output, hematuria.
  4. Kardivaskular : hipertensi.
  5. Neurologis : letargi, iritabilitas, kejang.
  6. Gastrointestinal : anoreksia, azotemia, hiperkalemia, Nyeri tekan.
  7. Integumen : pucat, edema.
  8. Palpasi : untuk mengetahui TFU, letak janin, lokasi edema

Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress

Perkusi : intuk mengetahui reflex patella sebagai syarat pemberian SM (jika reflex + )

 

Pemeriksaan Diagnostik
a. Whole Blood.
b. Urinalisis.
c. USG dan Radiologi.
d. BUN.
e. Kreatinin.
f. Serum Selectrolytes.
(Barbara Engram, 1988).

  1. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI
  • Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, atau nokturia) berhubungan dengan infeksi pada ginjal.
  • Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
  • Nyeri berhubungan dengan infeksi pada ginjal.
  1. INTERENSI / RASIONAL
    1. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, atau nokturia) berhubungan dengan infeksi pada ginjal.
  • Tujuan : pola eliminasi urine dalam batas normal (3-6 x/hari).
  • Kriteria Hasil :

–          Pasien bisa berkemih secara normal.

–          Tidak ada infeksi pada ginjal, tidak nyeri waktu berkemih.

  • Intervensi:

–          Ukur dan catat urine setiap kali berkemih.
Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output.

–          Anjurkan untuk berkemih setiap 2-3 jam.
Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria.

–          Palpasi kandung kemih setiap 4 jam.
Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih.

–          Bantu klien ke kamar kecil, memakai pispot/urinal.
Rasional : Untuk memudahkan klien dalam berkemih.

  1.  Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
  • Tujuan : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi dengan cukup.
  • Kriteria Hasil : Klien akan menunjukkan peningkatan intake ditandai dengan porsi akan dihabiskan minimal 80%.
  • Intervensi:

–          Sediakan makanan yang tinggi karbohidrat.
Rasional : Diet tinggi karbohidrat biasanya lebih cocok dan menyediakan kalori essensial.

–          Sajikan makanan sedikit-sedikit tapi sering, termasuk makanan kesukaan klien.
Rasional : Menyajikan makanan sedikit-sedikit tapi sering memberikan kesempatan bagi klien untuk menikmati makanannya, dengan menyajikan makanan kesukaan dapat meningkatkan nafsu makan.

–          Batasi masukan sodium dan protein sesuai order.
Rasional : Sodium dapat menyebabkan retensi cairan, pada beberapa kasus ginjal tidak dapat memetabolisme protein, sehingga perlu untuk membatasi pemasukan cairan.

  1. Nyeri berhubungan dengan infeksi pada ginjal.
  • Tujuan : Nyeri berkurang atau tidak ada.
  • Kriteria Hasil :

–          Klien menunjukkan wajah yang rileks.

–          Infeksi bisa diatasi.

  • Intervensi:

–          Kaji intensitas, lokasi, dan faktor yang memperberat dan memperingankan nyeri.
Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi.

–          Berikan waktu istirahat yang cukup.
Rasional : Klien dapat beristirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot-otot.

–          Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontraindikasi.
Rasional : Untuk membantu klien dalam berkemih.

–          Berikan analgesik sesuai dengan program terapi.
Rasional : Analgesik dapat memblok lintasan nyeri.

  1.  EVALUASI

Evaluasi disesuaikan dengan criteria hasil yang telah ditentukan.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Engram, Barbara. (1992). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 1. EGC. Jakarta.
  • Lawler, William, dkk. (1992). Buku Pintar Patologi Untuk Kedokteran Gigi. EGC. Jakarta.
  • Nettina, Sandra M. (2001). Pedoman Praktik Keperawatan. EGC. Jakarta.
    Price, Sylvia,dkk. (2005). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC. Jakarta

    • Wiknyosastro, Hanifah. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono.
By muecliisonagirl

RAMBUT


ALOPESIA

DEFINISI
Kebotakan (alopesia) adalah hilangnya sebagian atau seluruh rambut. Sejalan dengan pertambahan usia, pada pria dan wanita akan terjadi penurunan kepadatan rambut.
Pria memiliki pola kebotakan khusus yang berhubungan dengan hormon testosteron. Jika seorang pria tidak menghasilkan testosteron (akibat kelainan genetik atau dikebiri), maka dia tidak akan memiliki pola kebotakan tersebut. Wanita juga memiliki pola kebotakan yang khusus. Alopesia paling sering terjadi pada kulit kepala, biasanya terjadi secara bertahap dan bisa seluruh kulit kepala kehilangan rambutnya (alopesia totalis) atau hanya berupa bercak-bercak di kulit kepala. Sekitar 25% pria mulai mengalami kebotakan pada usia 30 tahun dan sekitar duapertiga pria menjadi botak pada usia 60 tahun. Rata-rata kulit kepala mengandung 100.000 helai rambut dan setiap harinya, rata-rata sebanyak 100 helai rambut hilang dari kepala. Setiap helai rambut berumur 4,5 tahun, dengan pertumbuhan sekitar 1 cm/bulan. Biasanya pada tahun ke 5 rambut akan rontok dan dalam waktu 6 bulan akan diganti oleh rambut yang baru. Kebotakan yang diturunkan terjadi akibat kegagalan tubuh untuk membentuk rambut yang baru, bukan karena kehilangan rambut yang berlebihan.
ETIOLOGI
Penyebabnya bisa berupa:

1.         Keturunan

2.         Penuaan

3.         Perubahan hormon

4.         Demam

5.         Keadaan kulit lokal

6.         Penyakit sistemik

7.         Obat-obat tertentu, misalnya yang digunakan untuk mengobati kanker atau vitamin A yang  berlebihan

8.         Pemakaian sampo dan pengering rambut yang berlebihan

9.         Stres emosional atau stres fisik

10.       Perilaku cemas (kebiasaan menarik-narik rambut atau menggaruk-garuk kulit kepala)

11.       Luka bakar

12.       Terapi penyinaran

13.       Tinea kapitis

14.       Trikotilomania.

 

MANIFESTASI KLINIS

Kebotakan pola pria adalah suatu pola khusus dari kebotakan pada pria, yang disebabkan oleh perubahan hormon dan faktor keturunan. Kebotakan terjadi karena adanya penciutan akar rambut yang menghasilkan rambut yang lebih pendek dan lebih halus. Hasil akhir dari keadaan ini adalah akar rambut yang sangat kecil, yang tidak memiliki rambut.
Penyebab gagalnya pertumbuhan rambut baru belum sepenuhnya dimengerti, tetapi hal ini berhubungan dengan faktor keturunan dan hormon androgen, terutama dihidrotestosteron yang berasal dari testosteron. Kebotakan pola pria dimulai pada garis rambut; secara bertahap, garis rambut mundur membentuk huruf M. Rambut menjadi lebih halus dan tidak tumbuh sepanjang sebelumnya. Rambut di ubun-ubun juga mulai menipis dan pada akhirnya ujung atas dari garis rambut yang berbentuk M bertemu dengan ubun-ubun yang menipis, membentuk kebotakan yang menyerupai tapal kuda.

 

Kebotakan pola wanita adalah kehilangan rambut pada wanita akibat perubahan hormon, penuaan dan faktor keturunan. Kebotakan terjadi karena adanya kegagalan pertumbuhan rambut yang baru. Penyebab dari kegagalan tersebut belum sepenuhnya dimengerti, tetapi diduga berhubungan dengan faktor keturunan, penuaan dan kadar hormon androgen.
Perubahan kadar hormon androgen bisa mempengaruhi pertumbuhan rambut. Setelah menopause, banyak wanita yang merasakan rambutnya menipis, sedangkan rambut wajahnya menjadi lebih kasar. Pola kebotakan pada wanita berbeda dengan kebotakan pada pria. Rambut di garis rambut (dahi) tetap, sedangkan rambut di bagian kepala lainnya menipis.
Mungkin terdapat kehilangan rambut yang lebih di ubun-ubun, tetapi jarang berkembang menjadi kebotakan total seperti yang terjadi pada pria.

 

Kebotakan pada wanita juga bisa disebabkan oleh:

1.         kerontokan rambut yang bersifat sementara (effluvium telogen)

2.         kerusakan rambut akibat penataan rambut, pengeritingan atau penarikan rambut

3.         alopesia areata

4.          obat-obatan

5.         penyakit kulit tertentu.

Alopesia toksika atau alopesia karena keracunan bisa terjadi akibat:

1.         Penyakit berat yang disertai demam tinggi.

2.         Dosis yang berlebihan dari beberapa obat (terutama talium, vitamin A dan retinoid)

3.         Obat kanker

4.         Kelenjar tiroid atau kelenjar hipofisa yang kurang aktif

5.         Kehamilan.

Kerontokan rambut bisa terjadi selama 3-4 bulan setelah penyakit atau keadaan lainnya.
Biasanya kerontokan bersifat sementara dan rambut akan tumbuh kembali.
Alopesia areata adalah suatu keadaan dimana secara tiba-tiba terjadi kerontokan rambut di daerah tertentu, biasanya pada kulit kepala atau janggut.
Pada alopesia universalis terjadi kerontokan pada semua rambut tubuh; sedangkan pada alopesia totalis terjadi kebotakan total pada rambut kepala.
Pola kebotakan yang terjadi adalah khas, yaitu berupa bercak berbentuk bundar.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi kadang dihubungkan dengan penyakit autoimun.

Trikotilomania adalah hilangnya rambut sebagai akibat dari dorongan yang kuat untuk menarik-narik rambut. Hilangnya rambut bisa membentuk suatu bercak bundar atau tersebar di kulit kepala. Trikotilomania merupakan suatu perilaku kompulsif, yang mungkin berasal dari adanya stres emosional maupun stres fisik. Paling sering ditemukan pada anak-anak, tetapi kebiasaan ini bisa menetap sepanjang hidup penderita.

Alopesia karena jaringan parut. Kebotakan terjadi di daerah jaringan parut.
Jaringan parut mungkin berasal dari luka bakar, cedera berat atau terapi penyinaran.Penyebab lain dari alopesia karena jaringan parut adalah:

1.         lupus eritematosus

2.         liken planus

3.         infeksi bakteri atau jamur yang bersifat menetap

4.         sarkoidosis

5.         tuberkulosis

6.         kanker kulit.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menentukan jenis kebotakan secara sederhana hanya melalui pengamatan terkadang sulit, karena itu dilakukan biopsi kulit untuk membantu menegakkan diagnosisnya.
Dengan biopsi bisa diketahui keadaan dari akar rambut sehingga bisa ditentukan penyebab dari kebotakan. Pola kebotakan pria maupun wanita biasanya didiagnosis berdasarkan pola dan gambaran hilangnya rambut.
PENATALAKSANAAN
Kehilangan rambut karena penyakit, terapi penyinaran atau pemakaian obat, tidak memerlukan pengobatan khusus. Jika penyakitnya membaik atau jika pengobatan dihentikan, biasanya rambut akan kembali tumbuh. Selama rambut masih dalam pertumbuhan, penderita bisa menggunakan rambut palsu, topi atau penutup kepala lainnya.
Kebotakan pola pria maupun wanita bersifat menetap. Jika penderita merasa tidak terganggu dengan penampilannya, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Ada 2 macam obat yang digunakan untuk mengatasi kebotakan pola pria maupun wanita, yaitu minoxidil dan propesia. Minoxidil dioleskan langsung ke kulit kepala. Obat ini bisa memperlambat kerontokan rambut, tetapi bila pemakaiannya dihentikan, maka kebotakan akan kambuh kembali. Propesia menghambat pembentukan hormon yang berperan dalam terjadinya kebotakan. Obat ini lebih efektif dibandingkan dengan minoxidil dan tidak menimbulkan efek terhadap kadar testosteron dalam tubuh. Pencangkokan rambut dilakukan dengan mengangkat sekumpulan kecil rambut dari daerah dimana rambut masih tumbuh dan menempatkannya di daerah yang mengalami kebotakan. Hal ini bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut di daerah donor dengan resiko infeksi yang rendah. Prosedur ini mungkin harus dilakukan secara berulang dan biayanya mahal. Cara lain yang aman dan tidak terlalu mahal untuk mengatasi kebotakan pola pria maupun wanita adalah merubah gaya penyisiran rambut atau menggunakan rambut palsu. Untuk alopesia areata bisa dilakukan pengobatan berikut:

1.         corticosteroid topikal (dioleskan langsung ke kulit kepala)

2.         suntikan steroid subkutan (dibawah kulit)

3.         terapi sinar ultraviolet

4.         mengoleskan bahan iritatif ke daerah yang botak untuk merangsang pertumbuhan kembali.

Pada trikotilomania, mencukur kepala bisa mempertahankan rambut, tetapi tidak mengatasi akar permasalahannya. Orang tua sebaiknya membantu menemukan masalahnya dan ikut terlibat dalam pengobatan. Dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan psikis.

PENCEGAHAN
Tips berikut ini dapat membantu menjaga kesehatan rambut dan dapat meminimalkan rambut rontok:

1.         Makan makanan yang bergizi seimbang.

2.         Tangani rambut Anda dengan lembut. Bila mungkin, biarkan rambut Anda kering secara alami.

3.         Hindari gaya rambut yang ketat, seperti kepang, disanggul atau ekor kuda.

4.         Hindari memuntir, menggosok atau menarik rambut Anda.

5.         Periksa dengan ahli perawatan rambut tentang gaya rambut atau teknik yang dapat membantu mengurangi efek botak.

6.         Obat minoxidil mendorong pertumbuhan rambut baru dan mencegah kerontokan rambut lebih lanjut pada beberapa orang. Produk pertumbuhan rambut OTC lain tidak terbukti memiliki manfaat.

 

PENAGANAN TRADISIONAL

  1. 1.         Ramuan Obat Tradisional 1 :

Air teh kental didiamkan selama semalam

Pemakaian : Gunakan keesokkan harinya untuk membasahi kulit kepala sambil dipijat secara merata dan biarkan beberapa saat, lalu bilas. Lakukan secara teratur 3 kali seminggu.

 

  1. 2.         Ramuan Obat Tradisional 2 :

Ambil kemiri secukupnya, lalu cuci hingga bersih, setelah itu kemiri ditumbuk hingga halus. Tambahkan air secukupnya kemudian direbus hingga keluar minyaknya.

Pemakaian : Oleskan minyak kemiri pada kulit kepala hingga merata. Setelah agak kering, lakukan secara teratur 2 kali seminggu.

 

  1. 3.         Ramuan Obat Tradisional 3 :

1 buah jeruk nipis diambil airnya, oleskan air jeruk nipis tersebut pada kulit kepala hingga merata. Setelah agak kering, oleskan juga kuning telur ayam pada kulit kepala hingga merata. Kepala dibalut dengan handuk selama semalam. Keesokan harinya dikeramas hingga bersih.

Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari.

 

  1. 4.         Ramuan Obat Tradisional 4 :

Rendam Cabai rawit secukupnya d dengan alkohol 75 % selama 14 hari, airnya dioleskan pada kulit kepala. Lakukan setiap hari.

Pemakaian : secara teratur 2 kali sehari.

 

  1. 5.         Ramuan Obat Tradisional 5 :

Seledri beserta tangkai secukupnya, dicuci bersih, lalu haluskan.

Pemakaian : Oleskan ke kulit kepala sambil dipijat-pijat. Lakukan setiap hari

 

  1. 6.         Ramuan Obat Tradisional 6 :

Daun pare segar secukupnya dicuci bersih , haluskan, lalu peras.

Pemakaian : Gunakan airnya untuk keramas dan biarkan selama 30 menit, lalu bilas hingga bersih.

 

  1. 7.         Ramuan Obat Tradisional 7 :

Kupas daun lidah buaya

Pemakaian : Gosokkan di kepala sampai merata dan biarkan selama beberapa jam, lalu bilas hingga bersih. Lakukan secara teratur 3 kali seminggu.

 

  1. 8.         Ramuan Obat Tradisional 8 :

Siapkan 10 lembar daun waru muda yang segar, segenggam daun urang-aring, 5 lembar daun mangkokan, 1 lembar daun pandan, 10 kuntum bunga melati, dan 1 kuntum bunga mawar. Setelah disiapkan cuci bersih bahan, potong-potong, masukkan ke dalam panci, tambahkan ½ cangkir minyak kelapa dan ½ cangkir minyak wijen, lalu panaskan sampai mendidih. Setelah dingin, saring.

Pemakaian : Oleskan di kulit kepala sambil dipijit-pijit. Lakukan pada malam hari sebelum tidur dan esok paginya rambut dikeramas. Lakukan 2-3 kali seminggu.

 

  1. 9.         Ramuan Obat Tradisional 9 :

Diamkan air teh kental selama semalam

Pemakaian : Gunakan keesokan harinya untuk membasahi kulit kepala sambil dipijat secara merata dan biarkan beberapa saat, lalu bilas. Lakukan secara teratur 3 kali seminggu.

 

 

PENANGANAN MODERN

  1. 1.       Minoxidilatau Regaine 

Merupakan obat bebas yang diaplikasikan langsung kekulit kepala untuk memperlancar pasokan darah ke folikel rambut. Sekitar dua pertiga pria melaporkan perbaikan dalam pertumbuhan rambut mereka setelah pemakaian hingga 1 tahun.

  1. 2.       Finasteride 

Adalah pengobatan oral untuk kebotakan, yang juga dikenal dengan merek Propecia. Obat ini harus dengan resep dokter karena bekerja dengan cara mencegah aksi hormon laki-laki yang memicu produksi DHT. Delapan puluh persen pria melaporkan perbaikan rambut setelah pemakaian hingga 6 bulan.

 

  1. 3.       Revivogen 

Adalah terapi perawatan kulit kepala dengan menggunakan bahan-bahan alami yang mempromosikan pertumbuhan rambut sehat dan memerangi penyebab kerontokan rambut. Pengobatan dapat memakan waktu sekitar 4-6 minggu untuk menunjukkan hasil.

  1. 4.       Transplantasi rambut 

Dilakukan dengan pengambilan sedikit jaringan kulit yang mengandung folikel rambut dari bagian lain kepala (seperti bagian belakang kepala) dan mencangkokannya ke daerah yang botak.

  1. 5.       Kafein. 

Ini mungkin sedikit mengejutkan, tapi telah ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kafein dapat bertindak sebagai stimulator pertumbuhan rambut manusia. Diperkirakan kafein bekerja dengan menghambat bahan kimia perusak folikel di dalam tubuh. Ada beberapa perawatan langsung berdasarkan kafein yang tersedia untuk membantu restorasi rambut

Asuhan Keperawatan

  1. Gangguan citra diri berhubungan dengan kebotakan akibat alopesia

Tujuan : klien mampu meningkatkan harga dirinya

kriteria hasil :

  1. Klien mampu menerima kondisi alopesianya
  2. Klien mampu menjalani aktifitas sehari- hari dengan normal tanpa gangguan citra diri

 

 

Intervensi

Rasional

Memberikan motivasi untuk meningkatkan harga diri klien Klien mampu menerima kondisi saat ini
Menyarankan klien untuk memakai penutup kepala, contoh : jilbab untuk wanita dan topi untuk pria Klien mampu mnjalani aktifitas sehari- hari tanpa gangguan citra diri

 

  1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi yang didapat klien .

Tujuan : klien memahami mengenai alopesia

Kriteria hasil : 1. Klien memahami proses terjadinya alopesia

 

Intervensi

Rasional

Memberikan Health education mengenai proses terjadinya alopesia Klien memahami proses terjadinya alopesia
Memberi dukungan moral dan psikologis pada klien Klien menjadi terkoping

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

1. Anonim. Kebotakan Rambut Pria, Mungkinkah Dipulihkan?. Diakses 16 juni 2011. http://majalahkesehatan.com/kebotakan-rambut-priamungkinkah-dipulihkan/

2. BolducC, et als; alopecia reatain eMecjicinJeo umavl ol. 2, No. 11,N ov 200.1

3. Dawber RPR, Barker, D,Wojnarowska. F, Disorders of Hair, In Champion RH et al eds. Rook, Wilkinsons, Ebling Textbook of Dermatology: In form volumes 6th ed oxford, Black Well Science Ltd, 1998, 2869-931.

3. Levy, Janey. Alopecia Areata. New York : The Rosen Publishing Group, 2006.

4. Olgen A.E. Hair Disorders. in. Fitzpatrick TB, et al eds. Dermatology in General Medicine 5th ed. New York : MC Graw – Hill Inc, 1999 : 729 – 46

By muecliisonagirl

Kebahagianku saat ini


 

Saya dari keluarga yang sederhana, saya 4 bersaudara. Mulai kelas 4 SD aku dan saudara2ku di tinggal ayah untuk menghadap sang khaliq(Tuhan YME). Sejak itu ibu menjadi 2 sosok ayah dan ibu. Aku salut kepada beliau yang sudah berhasil mendidik anak2nya hingga saya bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi kesehatan (Stikes) mojokerto walaupun saya tidak pernah minta kepada beliau. Bahagia banget rasanya ketika melihat senyum ikhlas yang di pancarkan kepadaku selama ini. Ingin rasanya jadi yang terbaik di mata beliau. Walaupun ibu sudah merasa bangga dengan prestasiku dibanding saudara2 ku yang hanya tamatan SMu, tapi aku masih merasa ” Apa yang bisa aku berikan untuk memberikan kebahagian yang lebih kepada beliau seperti yang beliau berikan terhadapku selama kecil hingga saat ini ?????”.
Membahagiakan beliau adalah cita2ku yang pertama sebelumku ingin menjadi mahasiswi perawat saat ini.

semangat ” Aku harus bisa jadi yang terbaik ” untuk beliau.

NB : temend2 liatlah keadaan kehidupan orang tua kita sebelum melakukan tindakan yang dapat merugikan beliau….

By muecliisonagirl